Mengenal Ella Rizki, Pembudidaya Gula Semut dari Magelang

Ella Rizki Farihatul Maftuhah
Ella Rizki Farihatul Maftuhah, pembudidaya gula semut dari Dusun Semen Desa Trenten Kecamatan Candimulyo Kabupaten Magelang. (Photo: dok Ella)

Semarang, Idola 92.6 FM – Sejak dulu kala secara turun temurun, warga di Dusun Semen Desa Trenten Kecamatan Candimulyo Kabupaten Magelang membuat gula jawa yang dicetak dengan batok kelapa. Bahan gula, langsung diambil dari kebun karena hampir semua warga Desa Trenten memiliki pohon kelapa untuk dideres (disadap) oleh kaum lelaki.

Melihat tak ada perubahan dari waktu ke waktu, Ella Rizki Farihatul Maftuhah bersama ibundanya, Yuni Setyaningsih, dan dua saudara mereka tergerak untuk mencari cara agar hasil lebih menjanjikan. Pilihan jatuh pada pembuatan gula semut yang harga di pasaran sekitar dua kali lipat dari harga gula jawa. Setelah proses dan jerih payah Ell bersama warga, sejak 2013, produksi gula semut organis mereka sudah bisa menembus pasar Korea Selatan dan negara-negara Eropa seperti Belanda.

Akhirnya dua tahun kemudian, Ella mengurus CV Nira Lestari dan lanjut mendirikan kelompok Wanita Tani Nira Lestari Makmur.

Produk Gula Semut Ella Rizki Farihatul Maftuhah
Produk Gula Semut Ella Rizki Farihatul Maftuhah. (Photo: dok Ella)

Sebagian impian Ella mulai terwujud. Impian untuk ikut serta memajukan perempuan di desanya dengan ilmu yang dia pelajari di S-2 Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Atas dedikasinya dalam budidaya gula semut, sejumlah prestasi diraih Ella. Di antaranya Ambassador Business Edupreneur UPI ( 2019) dan Awardee Population Activity Resources and Environment Program, Chulalongkorn University Thailand (2020).

Selengkapnya, mengenal pembudidaya gula semut dari Dusun Semen Desa Trenten Kecamatan Candimulyo Kabupaten Magelang, berikut ini wawancara radio Idola Semarang dengan Ella Rizki Farihatul Maftuhah. (yes/her)

Dengarkan podcast wawancaranya:

Artikel sebelumnyaTiap Bulan PLN Terima Aduan 62 Ribu Laporan Gangguan
Artikel selanjutnyaMemperbaiki Indeks Persepsi Korupsi, Masihkah Ada Harapan?