Refleksi 2020 dan Tantangan 2021: Meneropong Ekonomi Pascapandemi

Ilustrasi

Semarang, Idola 92.6 FM – Ekonomi di tengah pandemi sepanjang tahun 2020 bisa diibaratkan bagai perahu yang berlayar di atas arus gelombang besar resesi. Agar perahu tak karam, maka nakhoda mesti jeli melihat situasi agar tepat menentukan arah haluan.

Namun, segala upaya yang dilakukan si nakhoda tetap tak bisa mengubah keadaaan … selain mengikuti ke mana arah angin dan laju gelombang. Hal itu karena Pandemi telah mengubah banyak rencana dan situasi perekonomian dunia, termasuk Indonesia.

Pada 2020 lalu, Indonesia telah resmi terperangkap ke dalam resesi yang juga banyak dialami oleh negara di dunia. Perekonomian Indonesia mengalami perlambatan signifikan hingga di bawah 5 persen di pengujung tahun 2020. Salah satu dampaknya, adalah meningkatnya jumlah pengangguran dan penduduk miskin. Sehingga pada awal Desember 2020, Presiden Joko Widodo mengingatkan bahwa salah satu pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan adalah besarnya angka pengangguran akibat PHK selama masa pandemi Covid-19.

Dampak lain yang tak kalah berat akibat penghasilan negara yang turun, sementara biaya justru meningkat pesat, adalah: besarnya utang pemerintah. Sehingga, mantan Wapres Jusuf Kalla menyebut bahwa persoalan utang pemerintah, merupakan persoalan yang paling sulit dihadapi selama pandemi Covid-19. Dengan melebarnya defisit anggaran, maka pada tahun 2021 ini, 40 persen dari anggaran negara hanya akan habis untuk membayar bunga dan cicilan utang.

Lantas, menyongsong ekonomi pasca pandemi dengan beban hutang pemerintah yang tinggi, dan situasi dunia yang kurang lebih sama, lalu bagaimana peluang dan tantangan Indonesia? Hal-hal krusial apa yang perlu diperhatikan? Melihat kondisi perekonomian sepanjang tahun lalu—masihkah ada secercah harapan yang membuat kita menatap 2021 dengan penuh optimistis?

Untuk memperoleh gambaran atas persoalan ini, radio Idola Semarang berdiskusi dengan beberapa narasumber, yakni: Yustinus Prastowo (Staf Khusus Menteri Keuangan RI); Enny Sri Hartati (Peneliti Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)); dan Sofjan Wanandi (Pengusaha/ Ketua Dewan Pertimbangan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo)). (andi odang/her)

Dengarkan podcast diskusinya:

Artikel sebelumnyaSetiap Nakes Bakal Terima 2 Dosis Vaksin Sinovac
Artikel selanjutnya13 Sahabat Difabel Buat Buku Kidung Harapan Menembus Batas

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini