Satgas Covid-19 Ingatkan Sekolah agar Gelar Simulasi Sebelum Lakukan PTM

Ilustrasi PTM
ilustrasi/istimewa

Semarang, Idola 92.6 FM – Kesehatan adalah isu paling krusial karena berkaitan dengan keselamatan dan kelangsungan hidup kita pada hari ini. Sementara pendidikan juga menjadi urusan sentral untuk menyiapkan generasi masa depan. Lalu, ketika keduanya seakan saling berhadap-hadapan, maka persoalan mana yang mesti kita dahulukan?

Persoalan dilematis seperti ini tergambar di beberapa daerah yang telah menggelar pembelajaran tatap muka terbatas. Namun nyatanya, seiring dengan itu, muncul pula Cluster Covid-19 di beberapa sekolah seperti di Jepara dan Blora.

Lantas, menimbang pelaksanaan pembelajaran tatap muka terbatas di mana di sejumlah sekolah yang melaksanakannya justru menimbulkan Cluster Covid-19, bagaimana mestinya langkah Pemerintah? Di mana problemnya? Bagaimana jalan tengah di antara mengatasi dampak kesehatan dan pendidikan?

Menyikapi munculnya cluster sekolah, Juru bicara Satgas Penanganan Covid-19- Prof Wiku Adisasmito menyatakan, tidak semua kasus positif Covid-19 yang terkonfirmasi pada siswa sekolah dipicu cluster sekolah. Ada 3 potensi penularan pada warga termasuk para siswa yang ke sekolah. Sehingga, ketika sekolah akan menggelar PTM meski melakukan simulasi yang terintegrasi dengan sarana transportasi hingga rumah.

Hal itu dikatakan Prof Wiku Adisasmito saat diwawancara radio Idola, Senin 27 September 2021.

“Satu di rumah, kedua di jalan, ketiga di tempat tujuan aktivitas, apakah itu pekerja atau sekolah. Kalau di tiga tempat itu semuanya terjaga dengan baik, mak harusya tidak terjadi penularan. Maka dari itu, untuk sekolah, harus dilakukan simulasi bukan hanya di sekolah, termasuk di perjalanan, termasuk di juga rumah. Dari rumah ke sekolah, kembali lagi ke rumah, itu harus kondisi; sehat, bersih, kembali lagi; sehat bersih,” kata Prof Wiku Adisasmito, Juru bicara Satgas Covid-19.

Menurut Prof Wiku, jumlah sekolah yang menjadi cluster Covid-19 bervariasi. dan, ia kembali menjelaskan, tidak semua siswa yang positif Covid-19 berasal dari cluster sekolah karena bisa jadi ia tertular bukan di lingkungan sekolah. Hal itu merespons survei internal Kemendikbud-ristek yang menemukan lebih dari 1.300 sekolah, menjadi klaster Covid-19 selama pelaksanaan pembelajaran tatap muka terbatas.

“Kalau cluster sekolah, kan penularannya bisa saja dari rumah, bisa juga di jalan. Kenapa tidak disebut, cluster rumah?Kan begitu. Jadi, sebelum sampai ke situ, kita sampaikan saja bahwa kebetulan ada anak-anak yang disurvei sekolahnya, ternyata positif,” ujar Prof Wiku.

Untuk itu, sebagai evaluasi dan perbaikan PTM ke depan, Prof Wiku mengingatkan pihak sekolah bahwa kunci suksesnya PTM adalah simulasi sebelum melakukannya. Simulasi tersebut dilakukan penyelenggara sekolah dan terintegrasi dengan sarana transportasi yang dipakai siswa.

“Simulasi itu dilakukan oleh siapa? Oleh seluruh pelaku yang berinteraksi di dalam penyelenggaraan pendidikan tatap muka tersebut. Siapakah mereka? Pasti guru, murid. Tetapi, kan petugas di sekolah, juga iya. Terus mereka kan asalnya dari rumah, berarti di transportasi, iya. Transportasinya entah naik ojek, entah naik motor, atau jalan kaki, entah pakai kendaraan umum, atau kendaraan pribadi, semuanya harus dicoba. Harus disimulasi. Jadi, jangan serta merta langsung. Kendaraan juga mungkin isinya terbatas. Menggunakan prokes yang ketat. Di rumahnya juga persiapan, sebelum berangkat dan setelah pulang dari sekolah, juga harus di-exercise. Jadi, tak semuanya hanya di atas kertas (untuk menegakkan prokes-Red),” jelas Prof Wiku Adisasmito.

Sementara itu, menurut Dr Windhu Purnomo, Ahli Epidemiologi Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya, Satgas penegakan protokol kesehatan di masing-masing sekolah diperlukan untuk memastikan dan mengawasi penerapan prokes secara ketat di lingkungan sekolah.

“Sekolah harus punya Satgas yang terdiri dari tenaga pendidik, tenaga kependidikan, mengawasi secara internal. Selain itu, Dispendik (dinas pendidikan-Red) juga harus punya pengawas. Dispendik dan Satgas kabupaten/ kota setempat,” kata dr Windhu Purnomo.

Menurut dr Windhu Purnomo, kepatuhan dalam penerapan protokol kesehatan di sekolah-sekolah yang menggelar PTM terbatas, patut dievaluasi secara menyeluruh menyusul munculnya cluster Covid-19 di sekolah. (ade/ her)

Artikel sebelumnyaMenakar Plus-Minus Wacana Penunjukkan Perwira Tinggi TNI/Polri Menjadi Penjabat Kepala Daerah
Artikel selanjutnyaMengenal Antivirus Covid-19 Berbahan Jamur Endofit pada Tanaman Mangrove karya Tim Mahasiswa UGM

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini