Waspadai Gangguan Cuaca Selama Musim Transisi

Iis Widya Harmoko
Kasi Data dan Informasi BMKG Kelas I Semarang Iis Widya Harmoko memberikan penjelasan soal potensi hujan di wilayah Jateng.

Semarang, Idola 92,6 FM – BMKG Semarang meminta masyarakat Jawa Tengah, untuk mewaspadai gangguan cuaca selama musim transisi dari musim kemarau ke musim hujan. Terutama, untuk bencana angin puting beliung dan hujan es.

Kasi Data dan Informasi BMKG Kelas I Semarang Iis Widya Harmoko mengatakan saat ini Jateng memasuki musim transisi dari musim kemarau ke musim hujan, dan secara umum di wilayah Jateng diperkirakan sudah masuk musim hujan di beberapa wilayah. Pernyataan itu dikatakan saat ditemui di kantornya, Selasa (5/10).

Iis menjelaskan, daerah-daerah di Jateng yang sudah memasuki musim hujan ada di sekitar Gunung Slamet. Yakni di sekitar wilayah Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara dan Pekalongan hingga Tegal.

Menurutnya, pada masa transisi ini masyarakat juga harus mewaspadai adanya potensi bencana metrohidrologi.

“Selain masa transisi, juga ada gangguan-gangguan cuaca yang menyebabkan adanya hujan dengan intensitas relatif sedang hingga lebat yang terjadi selama beberapa hari. Biasanya kalau masa transisi, hujannya antara siang hingga sore hari menjelang malam hari. Itu yang perlu kita waspadai. Hal-hal yang perlu diwaspadai tentunya adalah adanya potensi bencana hidrometrologi, karena biasanya saat masa transisi lebih banyak potensi bencana metrohidrologi dibanding pada saat tidak musim,” kata Iis.

Iis Widya Harmoko, Kasi Data dan Informasi BMKG Kelas I Semarang:

Lebih lanjut Iis menjelaskan, saat ini yang terjadi adalah anomali suhu muka laut lebih hangat dan efeknya menambah curah hujan di wilayah Jateng pada khususnya dan Indonesia pada umumnya.

“Prakiraan sifat hujan antara normal hingga di atas normal. Kalau normal itu misal di Kota Semarang musim hujan 300 milimeter per bulan, dan di atas normal itu 350 milimeter per bulan,” pungkasnya. (Bud)

Artikel sebelumnyaPangdam: Tugas TNI Juga Ikut Bantu Tangani Pandemi
Artikel selanjutnyaMengenal Joni Mesakh, Nelayan dan Pelestari Mangrove dari Kupang NTT

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini