Bagaimana Penanganan Stunting yang Komprehensif dan Konkret?

Ilustrasi
Ilustrasi/Istimewa

Semarang, Idola 92.6 FM – Isu stunting dalam beberapa tahun belakangan mulai mendapat perhatian publik—khususnya pada momen-momen tertentu. Namun, selang beberapa waktu kemudian, isu stunting  seolah-olah senyap kembali. Tertutupi dengan topik-topik lain yang dinilai lebih penting seperti persoalan politik, ekonomi, dan korupsi.

Maka, kita bersyukur, kini, perhatian terhadap penanganan stunting kembali menggema. Hari Keluarga Nasional 2022 lalu bahkan mengambil tema “Ayo Cegah Stunting agar Keluarga Bebas Stunting”

Bahkan, Presiden Joko Widodo dalam acara tersebut secara khusus menyatakan bahwa stunting merupakan ancaman serius bagi masa depan Indonesia terutama untuk bersaing secara global di masa depan.

Anak-anak yang mengalami stunting akibat kurangnya kecukupan pangan dan gizi yang dibutuhkan akan mengalami masalah di kemudian hari. Kita akan menghadapi kendala serius dalam mempersiapkan generasi emas di masa mendatang.

Diketahui, prevalensi stunting Indonesia pada 2020 ada di peringkat ke-108 dari 132 negara atau  tertinggi ke-4 di Asia dan tertinggi kedua setelah Kamboja di Asia Tenggara.

UNICEF bahkan memperkirakan ada sekitar 31,8 persen anak di Indonesia mengalami stunting pada 2021. Artinya, hampir sepertiga anak di Indonesia mengalami masalah dalam pertumbuhannya.

Lalu, bagaimana semangat penanganan stunting ini, agar tidak hanya berujung pada bangkitnya kesadaran masyarakat, tetapi perlu ke solusi yang komprehensif dan konkret untuk mencegahnya? Sehingga perlu jelas, apa, bagaimana, dan siapa saja aktor-aktornya yang mesti aktif di hari depan? Apa pula satu hal penting yang harusnya kita lakukan untuk mencegah stunting yang kemarin belum kita lakukan?

Untuk memperoleh gambaran atas persoalan ini, radio Idola Semarang berdiskusi dengan narasumber, di antaranya: dr Hasto Wardoyo (Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)), Prof Evawany Yunita Aritonang (Ahli Kesehatan Masyarakat/ Profesor bidang gizi masyarakat di Departemen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara), dan dr. Lilia Dewiyanti, SpA, Msi.Med (dokter di Rumah Sakit Umum Daerah KRMT Wongsonegoro Semarang). (her/yes/ao)

Simak podcast diskusinya:

Artikel sebelumnyaTingkatkan Kualitas Layanan Kesehatan, RS Bhayangkara Tambah Fasilitas Rehab Medik
Artikel selanjutnyaMengenal Wabah Cacar Monyet bersama Prof Wayan T Artama
Editor In Chief Radio Idola Semarang.