Malaysia Siap Garap Potensi Energi Hijau di Jateng

Adlan bin Mohd Shaffieq
Adlan Mohd Shaffieq, Plt Duta Besar Malaysia untuk Indonesia. (Photo/Istimewa)

Semarang, Idola 92,6 FM – Malaysia berencana mengembangkan potensi kerja sama dengan Indonesia, untuk industri energi hijau dan pangan di Jawa Tengah. Kerja sama dilakukan, dalam upaya menghadapi dan mengantisipasi jika terjadi kelangkaan energi maupun pangan secara global.

Pelaksana tugas Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Adlan Mohd Shaffieq mengatakan ada potensi kerja sama di bidang energi hijau dan pangan, yang bisa dilakukan kedua negara untuk menghadapi tantangan global di masa mendatang. Pernyataan itu dikatakan saat berkunjung ke Semarang, baru-baru ini.

Adlan menjelaskan, potensi kerja sama bisnis industri di bidang energi hijau dan pangan itu cukup terbuka untuk digarap di Jateng. Salah satunya, karena di Jateng ada Kawasan Industri Batang yang memiliki potensi besar untuk digarap. Sehingga, Malaysia akan mendorong para pengusaha dari Negeri Jiran itu untuk bisa bermitra atau menanamkan investasinya di Jateng di sektor energi hijau dan pangan.

“Kerja sama yang akan dilakukan tentang penguatan korporasi dan kolaborasi antara dua negara. Perusahaan Malaysia di Jawa Tengah cukup banyak, sehingga ada banyak kesempatan kerja sama di bidang energi hijau dan pangan serta pembangunan lainnya,” kata Adlan.

Adlan Mohd Shaffieq, Plt Duta Besar Malaysia untuk Indonesia:

Lebih lanjut Adlan menjelaskan, kedua negara memang sudah sepakat untuk mengembangkan energi hijau dan pangan dalam menghadapi situasi geopolitik dunia. Sehingga, harus disikapi dengan cermat.

Menurutnya, peningkatan kerja sama di bidang sumber daya alam kedua negara bisa lebih ditekankan dan ditingkatkan.

“Kita harus saling support untuk bisa punya daya tahan tinggi, sehingga negara-negara ASEAN dalam konteks energi dan pangan punya ketangguhan,” pungkasnya. (Bud)

Artikel sebelumnyaDisperindag Terus Pantau Harga Komoditas di Pasaran
Artikel selanjutnyaBerawal Dari Iseng, Kini Aan Raup Cuan Lewat Kerajinan Artifisial