Mengenal Sekolah Kita Rumpin Bogor bersama Kak Ana Agustina

Ana Agustina
Ana Agustina Pendiri Sekolah Kita Rumpin Bogor. (Photo dok Ana)

Bogor, Idola 92.6 FM – Mendambakan sarana pendidikan bagi anak-anak yang merdeka, menggerakkan sosok Ana Agustina mendirikan Sekolah Kita Rumpin Bogor, pada 2012 lalu.

Sekolah Kita Rumpin yang berada di Sukamulya Kecamatan Rumpin Kabupaten Bogor berbeda dengan sekolah formal biasa. Di sini tak ada kewajiban bagi pengajar membuat anak semakin pintar dan paham pelajaran sekolah di luar kepala. Tapi lebih dari itu, setiap pengajar di Sekolah Kita Rumpin wajib membuat peserta kelas bisa tertawa lepas dan gembira.

Kegiatan Ana Agustina
Kegiatan Sekolah Kita Rumpin Bogor. Sekolah Kita Rumpin Bogor didirikan pada tahun 2012 sebagai sekolah alternatif gratis bagi adik-adik yang tinggal di daerah sub urban kampung Cibitung Rumpin Bogor. (Photo dok Ana)

Sekolah Kita Rumpin merupakan sekolah alternatif gratis bagi adik-adik yang tinggal di daerah sub urban kampung Cibitung Rumpin Bogor. Daerah itu diketahui merupakan daerah terpencil yang tenaga pengajarnya adalah para relawan dari berbagai daerah dan latar belakang yang ikhlas mengajar anak-anak tanpa dibayar.

Kegiatan Ana Agustina
Kegiatan Sekolah Kita Rumpin Bogor. Sekolah Kita Rumpin Bogor didirikan pada tahun 2012 sebagai sekolah alternatif gratis bagi adik-adik yang tinggal di daerah sub urban kampung Cibitung Rumpin Bogor. (Photo dok Ana)

Kepada radio Idola, Ana mengatakan sarana sekolah menggunakan mushola salah satu warga yang mengajak membuat sekolah ini.“Tempatnya di mushola warga. Pada tahun 2014 dapat donatur, akhirnya kami bikin taman baca. Yang sekolah di sini dari usia anak-anak sampai usia SMA,”terang Ana.

Sejauh mana perkembangan sekolah ini? Selengkapnya, berikut ini wawancara radio Idola Semarang bersama Pendiri Sekolah Kita Rumpin, Ana Agustina. (yes/her)

Simak podcast wawancaranya:

Artikel sebelumnyaRayakan Idul Adha 1443 H, Pertamina Sebar 5.112 Paket Daging di Jawa Tengah dan DIY
Artikel selanjutnyaBagaimana Kita Menghindar dari “Butterfly Effect” Resesi Global?