Merefleksi Hari Sumpah Pemuda ke-94, Bagaimana Visi dan Pandangan Para Pemuda Masa Kini?

Sumpah Pemuda ke-94
Ilustrasi/Istimewa

Semarang, Idola 92.6 FM – Hari ini, bangsa kita memperingati Hari Sumpah Pemuda. Tahun ini, genap 94 tahun usia momentum bersejarah yang mampu menyatukan segenap elemen dari berbagai lintas daerah.

Pada 94 tahun lalu, para pemuda mengucap ikrar: Kami putra dan putri Indonesia,mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu bangsa Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Ikrar dan kata-kata para pemuda kala itu serupa mantra dan doa. Ia mampu menjadi spirit dan energi besar yang mampu mendorong segenap lapisan bangsa untuk bergerak, bersatu padu mewujudkan cita-cita, Indonesia merdeka.

Tahun ini, peringatan Sumpah mengangkat tema “Bersatu Bangun Bangsa”. Sejarah telah menunjukkan, Pemuda selalu menjadi lokomotif yang menarik kemajuan bangsa. Bahkan sejarah itu sendiri, sejarahnya para pemuda yang menggagas, mempersiapkan dan memproklamirkan lahirnya negara Indonesia.

Maka, merefleksi Hari Sumpah Pemuda ketika tantangan dan persoalan begitu kompleks, bagaimana visi dan pandangan Para Pemuda kita sekarang? Meminjam tema peringatan tahun ini, bagaimana anak-anak muda “Bersatu Membangun Bangsa”? Bagaimana pula menempa daya anak-anak muda masa kini, dalam menyongsong tantangan masa depan?

Untuk memperoleh gambaran atas persoalan ini, radio Idola Semarang berdiskusi dengan narasumber, di antaranya: Bhima Yudistira Adhinegara (Seorang Pemuda yang menjadi Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS)) dan Citra Referandum (Anak Muda yang menjadi Pengacara publik dari Lembaga Bantuan Hukum Jakarta (LBH Jakarta)). (her/yes/ao)

Simak podcast diskusinya:

Artikel sebelumnyaKurangi Angka Laka Lantas, Polri Kedepankan Sosialisasi dan Edukasi Patuh Aturan di Jalan
Artikel selanjutnyaBawaslu Jateng Lantik 1.728 Panwaslu Kecamatan di Pemilu 2024
Editor In Chief Radio Idola Semarang.