Sudahkah Ancaman Krisis Iklim Menjadi Kesadaran Nasional?

Climate Change
Ilustrasi/Istimewa

Semarang, Idola 92.6 FM – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut perubahan iklim merupakan ancaman yang lebih nyata dari pandemi Covid-19 maupun gejolak politik dunia yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

Hal tersebut dikemukakan Sri Mulyani saat memberikan pengarahan dalam acara HSBC Summit 2022 ‘Powering the Transition To Net Zero’ yang disiarkan secara daring, Rabu 14 September 2022. Menurut Menkeu, perubahan iklim adalah ancaman global yang sebenarnya yang berpengaruh pada kehidupan sosial, ekonomi, dan lebih signifikan memengaruhi dunia dibanding pandemi Covid-19.

Sri Mulyani menekankan, target menurunkan emisi maupun netralitas karbon pada 2050 mendatang menjadi penting dan mendesak. Sebab, perubahan iklim dikhawatirkan akan memicu krisis yang jauh lebih ‘mengerikan’ dibandingkan sebelumnya. Bahkan, menurut Menkeu, Indonesia bisa kehilangan potensi ekonomi senilai Rp 112,2 triliun atau 0,5 persen dari GDP pada 2023 akibat krisis perubahan iklim.

CO2 Emissions
CO2 emissions in the power and industry sectors. (Photo/DW)

Kalau sampai begitu serius ancaman perubahan iklim, maka, apakah hal ini sudah menjadi kesadaran seluruh masyarakat Indonesia? Bidang-bidang apa saja yang berpotensi bakal terdampak dan mitigasi apa yang mesti dilakukan? Lalu, apa movement atau gerakkan yang mesti dilakukan oleh segenap pemerintahan dari pusat sampai daerah? Sudah adakah upaya masif untuk menggugah partisipasi dan dukungan seluruh warga negara Indonesia?

Untuk memperoleh gambaran atas persoalan ini, Radio Idola Semarang berdiskusi dengan narasumber, di antaranya: Puspa Dewy (Kepala Divisi Kajian dan Hukum Lingkungan WALHI (Wahana Lingkungan Hidup) Nasional), Mohammad Faisal (Direktur Eksekutif CORE Indonesia), dan Dwi Andreas Santosa (Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University). (her/yes/ao)

Simak podcast diskusinya:

Artikel sebelumnyaKonsumen Lebih Pilih Rumah Tapak Pinggir Kota
Artikel selanjutnyaMengenal Bank Sampah Universitas Budi Luhur Jakarta bersama Umi Tuti Asmawi