Universitas Pertamina dan Universiti Petronas Kembangkan Baterai Mobil Listrik Berbasis Sodium dan Aluminium

Praktikum pengujian elektrokimia
Praktikum pengujian elektrokimia di laboratorium instrumentasi di Universitas Pertamina.

Semarang, Idola 92,6 FM – Kendaraan listrik di Tanah Air mulai menarik perhatian konsumen, dan setiap tahun permintaannya mengalami kenaikan. Data dari Kementerian Perhubungan mencatat, hingga November 2021 kemarin jumlah kendaraan listrik di Indonesia mencapai 14.400 unit. Sedangkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dalam Grand Strategi Energi Nasional menargetkan, pada 2030 mendatang jumlah mobil listrik akan mencapai angka dua juta unit dan motor listrik sekira 13 juta unit.

Ketua tim peneliti Program Studi Teknik Mesin Universitas Pertamina Sylvia Ayu Pradanawati mengatakan komponen utama untuk pembuatan kendaraan listrik yang disyaratkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), saat ini berjenis baterai lithium-ion. Baterai jenis tersebut diklaim unggul dari sisi usia pakai, dan proses pengisian daya lebih cepat.

Menurutnya, baterai lithium-ion memakan biaya besar bagi produksi mobil listrik. Yakni sekira 40 hingga 50 persen dihabiskan untuk baterai lithium-ion, karena baterai tersebut membutuhkan bahan baku kobalt yang sulit didapat dan harganya mahal.

“Kami menawarkan solusi pemanfaatan sodium dan aluminium, sebagai baku utama pembuatan baterai pengganti lithium. Selama satu tahun terakhir, tim melakukan pengembangan baterai dengan cara menggantikan elektrolit cair menjadi polimer elektrolit berbahan baku sodium dan aluminium. Selain untuk mendapatkan alternatif bahan baku baterai, elektrolit yang dibuat tim juga terbukti lebih tahan pada suhu tinggi dibandingkan elektrolit cair. Harganya juga lebih ekonomis,” kata Sylvia.

Lebih lanjut Sylvia menjelaskan, jumlah sodium dan aluminium di alam jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan lithium yang jumlahnya terbatas.

“Proses pembuatan elektrolit baterai tersebut cukup sederhana. Garam sodium dan aluminium dilarutkan dengan sebuah zat pelarut, untuk kemudian dicampurkan dengan polimer tertentu. Polimer yang digunakan tim berbahan baku alami dari alam, yang tentu lebih ramah lingkungan,” jelasnya.

Diketahui, penelitian tersebut juga melibatkan Universiti Teknologi Petronas (UTP) milik perusahaan minyak dan gas bumi Malaysia. Kedua kampus memiliki kesamaan tujuan untuk membangun industry-oriented university, yaitu bertujuan menjawab kebutuhan industri dengan mengembangkan SDM unggul yang fleksibel dan adaptif terhadap perkembangan dunia industri. (Bud)

Artikel sebelumnyaKadin Jateng Beri Penghargaan ke 10 UMKM Terbaik
Artikel selanjutnyaMengenal Titien Suprihatien, Guru SMP dan Pegiat Literasi Pelajaran Sains dari Jambi