Nelayan Diimbau Tunda Melaut Karena Ombak Capai 4 Meter

Nelayan memperbaiki jaring
Nelayan memilih memperbaiki jaring atau kapal karena cuaca ekstrem tidak bisa melaut.

Semarang, Idola 92,6 FM – Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Tengah mengimbau kepada masyarakat nelayan, untuk tidak melaut mencari ikan di tengah laut.

Saat ini, cuaca ekstrem yang terjadi berdampak pada ketinggian ombak di pantai utara dan pantai selatan Jawa.

Ketinggian ombak di pantura dan pansela mencapai 1,25 meter hingga empat meter.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jateng Fendiawan Tiskiantoro mengatakan pihaknya telah menerbitkan surat imbauan melalui Himpunan Nelayan Seluruh Indonesaia (HNSI) dan Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Jateng.

Isinya, meminta agar para nelayan menunda keberangkatan kapal mengingat cuaca ekstrem dan gelombang tinggi.

Fendi menjelaskan, sekira 90 persen kapal nelayan di Cilacap tidak melaut.

Sementara yang belum melabuh di kampung asal, memilih bertahan di Pantai Pacitan dan Sendang Biru di Jawa Timur.

Menurutnya, di pantura sebanyak 70 persen kapal bersandar di kolam pelabuhan dan berlindung di pulau terdekat sembari menunggu cuaca kembali membaik.

“Kepada semua kepala Pelabuhan Perikanan dan Syahbandar Perikanan diminta untuk memantau aktivitas kapal penangkap ikan di pelabuhan. Bila kondisi cuaca tidak memungkinkan maka penerbitan surat persetujuan berlayar (SPB) ditunda hingga cuaca normal kembali dan memungkinkan kapal untuk berangkat,” kata Fendi.

Lebih lanjut Fendi menjelaskan, gegara cuaca buruk jumlah tangkapan nelayan menurun.

Pada November 2022 kemarin, tangkapan nelayan hanya 12.397 ton dan turun sebanyak 64,61 persen dibandingan November 2021 yang mencapai 35.031 ton.

Sedangkan produksi penangkapan ikan pada Desember 2022 masih dalam penghitungan di masing-masing pelabuhan.

“Cuaca ekstrem berdampak pada berkurangnya ikan hasil tangkapan nelayan dan aktivitas pelelangan di TPI. Kemarin kami bantu 146 paket sembako untuk keluarga nelayan di Kelurahan Tambaklorok Semarang,” pungkasnya. (Bud)

Artikel sebelumnyaSisa Pembakaran Batu Bara PLTU Dijadikan Sebagai Talud Sementara Tanggul Kali Babon Yang Jebol
Artikel selanjutnyaMengenal Kampoeng Batara, Sekolah Adat Berbasis Konservasi di Kaki Gunung Raung Lingkungan Papring Banyuwangi
Wartawan senior Radio Idola Semarang.