Rupiah Makin “Ambrol” hingga Terendah Sejak 20 tahun Terakhir, Apa Faktor Penyebabnya dan Apa Akibatnya?

Rupiah Jeblok
ilustrasi/istimewa

Semarang, Idola 92.6 FM – Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS menunjukkan tren pelemahan sejak awal 2024. Bahkan, mencapai level terendah dalam 20 tahun terakhir. Sejumlah kalangan menilai,  melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap dollar AS tak terlepas dari berbagai faktor eksternal dan internal. Di antaranya kebijakan suku bunga tinggi The Fed yang masih sangat powerful dan tak ada yang tahu kapan akan mulai turun. Selain itu, juga dinilai karena berkurangnya minat investor asing, dan melemahnya harga komoditas ekspor.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat sebesar Rp16.368 pada Rabu, 19 Juni 2024. Nilai itu menguat tipis 0,03% dari sebelumnya, Jumat 14 Juni yang sebesar Rp16.374 per dolar AS.

Secara histroris, posisi rupiah di level 16.000 memang sudah terjadi sejak April 2024. Pelemahan ini diprediksi berlanjut, karena adanya sentimen suku bunga Bank Sentral AS dan kondisi geopolitik global.

USD to IDR Chart
ilustrasi/vorbes

Lalu, faktor apa saja yang memicu pelemahan rupiah terhadap dollar AS? Dari sisi internal,  adakah sentimen negatif yang membuat pasar tertekan? Benarkah rumor tentang rencana utang jumbo Prabowo Subianto, membuat pasar jadi grogi?

Untuk memperoleh gambaran atas persoalan ini, radio Idola Semarang berdiskusi dengan narasumber: Dr Agustinus Prasetyantoko (Ekonom/Rektor Unika Atma Jaya Jakarta) dan  Roy N. Mandey (Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO)). (her/yes/ao)

Simak podcast diskusinya: