TPID Jateng Torehkan Prestasi Terbaik Kendalikan Inflasi Jawa-Bali, Berikut Program Unggulannya

Toko pengendali inflasi
Toko pengendali inflasi yang ada di Kabupaten Magelang menjadi salah satu cara TPID Jateng untuk pengendalian harga kebutuhan pokok.

Semarang, Idola 92,6 FM – TPID Jawa Tengah menorehkan prestasi terbaik dalam pengendalian inflasi di wilayah Jawa-Bali.

Penyerahan penghargaan dilakukan pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengendalian Inflasi 2024 yang diselenggarakan di Istana Negara Jakarta, kemarin.

Selain TPID Jateng, TPID Kabupaten Kebumen dan Kota Semarang juga mendapat penghargaan serupa.

TPID Jateng berhasil meraih predikat sebagai TPID Provinsi Berkinerja Terbaik wilayah Jawa-Bali melalui program inovatif bertajuk Rama dan Sinta (progRAM Antisipasi & pengenDAlian iNflasi melalui SINergi sTAkeholder).

Program itu berfokus pada optimalisasi peran APBD dan APBN, untuk meredam dampak dari tingginya gejolak harga komoditas pangan strategis.

Selain itu, program tersebut juga menekankan pada pentingnya sinergi antar stakeholder melalui penguatan sinergi pentahelix (termasuk BUMD) dalam pengendalian inflasi.

Prestasi serupa juga diraih oleh Kabupaten Kebumen dengan penghargaan TPID Kabupaten/Kota Non-Penghitung Inflasi Berkinerja Terbaik wilayah Jawa-Bali melalui inovasi Gerakan Pengendalian Harga Pangan Dukung Stabilitas Inflasi dan Penurunan Kemiskinan atau yang disebut “Gerak Seruni”.

Gerak Seruni mampu mengendalikan harga pangan yang berdampak pada stabilitas inflasi, dan penanggulangan kemiskinan di Kebumen melalui sinergi antar stakeholder.

Prestasi membanggakan juga diraih TPID Kota Semarang, yang kembali berhasil mendapatkan nominasi sebagai TPID Kabupaten/Kota Penghitung Inflasi Berkinerja Terbaik wilayah Jawa-Bali.

Kota Semarang mengusung program inovatif bertajuk Ki Ageng Pandanaran (KolaborasI tAnGguh bErsama pemaNGku kepentingan dalam PenANganan dan pengenDAlian iNflasi kotA semARANg).

Fokusnya pada optimalisasi distribusi pangan murah secara end-to-end dari hulu ke hilir yang tentunya didukung dengan sinergi stakeholder. inflasi nasional.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengapresiasi atas sinergi erat seluruh pemangku kebijakan dalam pengendalian inflasi, sehingga inflasi tetap terjaga dalam kisaran sasarannya.

Menurutnya, Bank Indonesia terus memerkuat bauran kebijakan moneter yang pro-stability guna memitigasi risiko yang dapat memberikan tekanan terhadap inflasi.

Termasuk dari kenaikan imported inflation serta kenaikan harga energi dan pangan global.

“Bank Indonesia juga akan meningkatkan peran 46 Kantor Perwakilan Bank Indonesia di seluruh Indonesia, untuk meningkatkan keberlanjutan sinergi dan efektivitas GNPIP. Antara lain melalui program ketahanan komoditas pangan, kerja sama antardaerah, fasilitasi distribusi pangan, serta digitalisasi guna mendukung pencapaian sasaran inflasi,” kata Perry.

Sementara Presiden Joko Widodo menginstruksikan kepada Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan TPID, untuk senantiasa memerkuat pengendalian inflasi melalui pengamanan produksi dan peningkatan efisiensi rantai pasok pangan, dan didukung Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).

Presiden menjelaskan, upaya tersebut perlu terus dilakukan guna memitigasi berbagai risiko dampak ketidakpastian global dan perubahan iklim terhadap inflasi.

Termasuk inflasi pangan, sehingga inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) terus menurun dan tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen pada 2024-2027.

“Terkendalinya inflasi IHK selama 10 tahun terakhir yang berada dalam tren menurun dari 8,36 persen (yoy) di 2014 menjadi 2,84 persen (yoy) pada Mei 2024, menjadi salah satu yang terendah di dunia. Capaian positif itu merupakan hasil konsistensi kebijakan moneter serta eratnya sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan Pemerintah dalam TPIP dan TPID melalui penguatan GNPIP di berbagai daerah,” ujar Jokowi. (Bud)