Petugas di gudang Bulog sebelum mengangkut beras di sejumlah pedagang.

Semarang, Idola 92,6 FM-Provinsi Jawa Tengah kembali menegaskan peran strategisnya, dalam mendukung ketahanan pangan nasional sepanjang 2025.

Hal ini tercermin dari realisasi penyerapan gabah dan beras yang dilakukan Perum Bulog yang mencapai 331.618 ton setara beras atau 98,56 persen dari target, menjadi capaian tertinggi dalam enam tahun terakhir.

Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan Jateng Bayu Andy Prasetya mengatakan capaian tersebut merupakan hasil sinergi, antara momentum panen raya dan kebijakan pemerintah yang berpihak pada petani. Hal itu dikatakan melalui siaran pers secara daring, kemarin.

“Optimalisasi penyerapan dilakukan terutama pada panen raya Musim Tanam I dan II. Dukungan kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) juga berperan penting dalam menjaga stabilitas harga gabah di tingkat petani,” kata Bayu.

Bayu menjelaskan, secara spasial, penyerapan gabah dan beras Bulog di Jateng terkonsentrasi di sejumlah sentra produksi utama seperti Grobogan, Demak, Banyumas, Kendal dan Boyolali.

Intervensi dilakukan secara selektif, dengan mempertimbangkan kondisi harga di masing-masing wilayah.

Menurut Bayu, pada periode Musim Gadu, pengadaan yang dilakukan Bulog lebih difokuskan sebagai instrumen stabilisasi harga.

Langkah ini bertujuan, melindungi pendapatan petani sekaligus menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan di pasar.

“Pengadaan pada Musim Gadu bukan semata mengejar volume, tetapi menjadi alat stabilisasi agar harga tetap wajar dan petani tidak dirugikan,” jelasnya.

Lebih lanjut Bayu menjelaskan, dengan capaian tersebut, menegaskan Jateng terus menjadi salah satu kontributor utama pengadaan Bulog nasional.

Peran ini dinilai krusial, dalam menjaga ketersediaan stok beras pemerintah sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan. (Bud)