Bagaimana Mengatasi Masih Lebarnya Ketimpangan Kesejahteraan

Semarang, Idola 92.6 FM – Kuasa pasar menjadi lokomotif memburuknya ketimpangan kesejahteraan setelah krisis keuangan tahun 1997. Hal ini berkelindan dengan kuasa politik, upah buruh murah, dan system perpajakan yang gagal. Indonesia hari ini merupakan negara tertimpang keenam di dunia. Kondisi ini tertuang dalam Laporan Ketimpangan Indonesia yang diterbitkan International NGO Forum on Indonesian Develpoment (Infid) dan Oxfam di Jakarta baru-baru ini.

Mengutip laporan itu, penyebab memburuknya ketimpangan di Indonesia sangat kompleks dan berlapis, mulai dari faktor struktural hingga pilihan kebijakan. Situasi ini berawal dari resep penyehatan ekonomi Dana Moneter International (IMF) dan Bank Dunia pada tahun 1997.

Lalu, bagaimana mengatasi masih lebarnya ketimpangan kesejahteraan masyarakat kita? Benarkah ini dipicu faktor kuasa pasar yang mendominasi? Lantas, sudahkah program pemerintah menjawab persoalan ketimpangan kesejahteraan dan ketimpangan sosial ini?

Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, kami nanti akan berdiskusi dengan beberapa narasumber yakni: Sugeng Bahagijo (Direktur Eksekutif INFID) dan Awan Santosa (staf ahli Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM dan Direktur Mubyarto Institute). (Heri CS)

Berikut Perbincangannya:

Artikel sebelumnya[PhotoEvent] Semarang Trending Topic Februari 2017
Artikel selanjutnyaPemkot Harus Benahi Destinasi Wisata Non Unggulan Untuk Pikat Wisatawan