Bagaimana Langkah Nyata Mengatasi Ketimpangan Ekonomi dan Menggenjot Pertumbuhan Ekonomi di Masa Mendatang?

Ketimpangan Sosial
Ilustrasi/Istimewa

Semarang, Idola 92.6 FM – Ketimpangan ekonomi yang kian melebar dapat menjadi momok para bakal calon presiden untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi ke depan.

Hal tersebut disampaikan ketiga bakal calon presiden, yakni Anies Baswedan, Prabowo Subianto, dan Ganjar Pranowo, dalam gelaran Sarasehan 100 Ekonom bertema ”Akselerasi Menuju Ekonomi Indonesia yang Hijau, Inklusif, dan Unggul” yang digelar Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) di Jakarta, Rabu, 8 November 2023.

Dilansir Kompas (09/11), ketiga kandidat calon presiden sepakat bahwa Indonesia memerlukan lompatan ekonomi dalam beberapa tahun ke depan agar dapat keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah. Masalah ketimpangan, menjadi pekerjaan rumah tiap kandidat dalam memformulasi strategi ekonomi untuk mencapai pertumbuhan yang konsisten.

Merujuk data BPS pada Maret 2023, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia yang diukur menggunakan Gini Ratio adalah sebesar 0,388. Angka ini meningkat 0,007 poin jika dibandingkan dengan Gini Ratio September 2022 yang sebesar 0,381 dan meningkat 0,004 poin jika dibandingkan dengan Gini Ratio Maret 2022 yang sebesar 0,384.

Lalu, ketika ketimpangan menjadi hambatan para kandidat Capres untuk mencapai lompatan ekonomi: Lalu, bagaimana langkah dan upaya untuk mengatasi ketimpangan ekonomi dan menggenjot pertumbuhan ekonomi di masa mendatang? Bagaimana upaya teknokratis yang mestinya dilakukan para kandidat capres agar tidak sekadar melambungkan impian tetapi jauh dari kenyataan, ketika mereka terpilih nanti?

Untuk memperoleh gambaran atas persoalan ini, radio Idola Semarang berdiskusi dengan narasumber, yakni Tauhid Ahmad (Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)), Prof Didin S Damanhuri (Guru Besar Ekonomi Politik IPB University), dan Hendri Saparini, Ph.D (Founder & Ekonom Senior Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia). (her/yes/ao)

Simak podcast diskusinya:

Artikel sebelumnyaAmin Kharudin, Pejuang Pendidikan dari Lampung
Artikel selanjutnyaPenuhi Hasrat Fesyen di Semarang, Mango Hadir di The Park