Dinkop dan UMKM Jateng Akan Garap Potensi Ekonomi Lokal Daerah Miskin Untuk Angkat Kesejahteraan Masyarakat Setempat

Semarang, 92.6 FM-Jumlah penduduk miskin di Jawa Tengah menempati peringkat kedua di Indonesia, setelah Provinsi Jawa Timur. Sebanyak 15 kabupaten/kota di Jawa Tengah masuk zona merah, yang berkontribusi terhadap angka penduduk miskin di provinsi ini. Sehingga, perlu ada terobosan program mengurangi angka kemiskinan di Jawa Tengah.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Jateng Ema Rahmawati mengatakan ada beberapa program, yang diterapkan untuk berkontribusi mengurangi angka kemiskinan di provinsi ini. Misalnya, dengan program-program pengentasan kemiskinan yang bisa disinergikan bersama potensi daerahnya.

Ema menjelaskan, potensi yang bisa dikembangkan masing-masing daerah itu akan berbeda-beda sesuai karakter masyarakatnya. Namun yang pasti, potensi daerah itu bisa diarahkan menjadi keunggulan dan kekayaan masyarakat sekitar.

“Akan menumbuhkan basis ekonomi baru di wilayah merah atau miskin. Paling tidak di tahap pertama ada di 15 wilayah di Jateng. Misalnya di Brebes, Tegal dan Pemalang. Yang akan diangkat adalah potensi lokalnya. Jadi, jangan sampai bahan baku harus impor dari daerah lain. Kalau daerah miskin bisa terangkat sektor usahanya, maka kesejahteraan masyarakat ikut terangkat,” kata Ema, Rabu (27/9).

Sementara, Gubernur Ganjar Pranowo menyatakan, pengentasan kemiskinan di Jawa Tengah akan disinergikan dengan program tanggung jawab sosial perusahaan, agar hasilnya lebih optimal.

Menurutnya, pengurangan angka kemiskinan menjadi salah satu prioritas penanganan Pemprov Jateng. Ada empat strategi penanggulangan kemiskinan, yaitu mengurangi beban pengeluaran masyarakat miskin, peningkatan kemampuan dan pendapatan masyarakat miskin dengan pemberdayaan ekonomi, serta menjamin keberlangsungan usaha mikro kecil melalui pengembangan ekonomi berbasis UMKM. (Bud)

Artikel sebelumnyaBulog: Permintaan Daging Kerbau Dari Apmiso Masih di Bawah 1 Ton Per Bulan
Artikel selanjutnyaDinperindag Jateng Gandeng BPOM Semarang Awasi Peredaran Bahan Berbahaya Yang Dicampur ke Makanan Dan Minuman