Bagaimana Mengejawantahkan Transformasi Pendidikan Digital di Era Revolusi Industri 4.0?

Semarang, Idola 92.6 FM – Revolusi Industri 4.0 menciptakan perubahan mendasar dalam semua aspek kehidupan termasuk pendidikan. Semua elemen harus disiapkan, bukan sekadar infrastruktur seperti teknologi melainkan juga semua pemangku kepentingan terutama siswa, guru, sekolah dan penyelarasan kurikulum.

Pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) saat ini—yang disebut sebagai Revolusi Industri 4.0, telah menciptakan perubahan mendasar dalam semua aspek kehidupan masyarakat termasuk pendidikan. Tantangan TIK saat ini dalam pendidikan adalah untuk memanfaatkan berbagai potensi yang mampu mempersempit kesenjangan digital, pembentukan karakter, transformasi pendidikan digital, dan pendidikan digital, dan pendidikan kejuruan.

Demikian mengemuka dalam peluncuran acara International Symposium on Open, Distance and e-Learning (ISODEL) yang diselenggarakan Pustekom Kemendikbud, Universitas Terbuka, dan Indonesia Distance Learning Network di Jakarta baru-baru ini.

blank
Industri 4.0

Dalam acara tersebut, Kepala Pustekom Kemendikbud-Gogot Suharwoto menyampaikan, pendidikan di era Revolusi Industri 4.0 setidaknya menyentuh 4 sisi, yakni: Pertama, siswa tidak hanya disiapkan dalam penguasaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Kedua, pola pikir (mindset) guru juga perlu diubah untuk beradaptasi dengan TIK dalam pembelajaran. Ketiga, sekolah juga harus memanfaatkan TIK mulai dari input, yakni penerimaan siswa baru, proses belajar, dan evaluasi. Dan, keempat, perlu penyesuaian kurikulum.

Lantas, di era revolusi industry 4.0—bagaimana meng-ejawantah-kan transformasi pendidikan digital? Siapa yang mesti memulai dan meng-conduct-nya? Mesti dimulai dari mana memulainya?

Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, Radio Idola Semarang berdiskusi dengan beberapa narasumber, yakni: Prof Rina Indiastuti (Sesditjen Belmawa (Pembelajaran dan Kemahasiswaan) Kemenristek Dikti) dan Mohammad Abduhzen (Direktur Eksekutif Institute for Education Reform Universitas Paramadina Jakarta). [Heri CS]

Berikut diskusinya:

Artikel sebelumnyaMemahami Problem Stunting: Di Antara Kemiskinan dan Keterbatasan Pengetahuan
Artikel selanjutnyaPakai SKTM Aspal, Dinas Pendidikan Jateng Coret 500 Siswa

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini