Bagaimana Menghidupkan Diskursus Pancasila Sehingga Menemukan Pemaknaan Baru yang Relevan bagi Generasi Bangsa?

Semarang, Idola 92.6 FM – Pancasila sebagai filosofi negara dinilai sudah final. Kita sepakat, Pancasila menjadi pemersatu serta dasar hidup berbangsa dan bernegara. Namun, kita mesti menyadari bahwa implementasi dan pemaknaannya belum selesai. Harus terus ditumbuhkan dalam diskursus untuk menyemai makna baru yang relevan.

Di era kekinian, diperlukan pemaknaan Pancasila yang tidak bersifat indoktrinasi. Sehingga harapannya bisa membuat Pancasila menjadi ideologi lintas generasi bagi bangsa Indonesia. Selain itu, pemaknaan baru juga makin mempersatukan warga-bangsa. Sebab, tanpa pemaknaan baru akan membuat Pancasila tumpang tindih karena dinilai tidak relevan.

Setelah itu, perlu upaya bersama lintas elemen masyarakat untuk menjalin komunikasi dengan penyelenggara negara, organisasi politik, organisasi kemasyarakatan, komunitas kebudayaan, juga komunitas akademik. Sehingga, dengan demikian, nilai-nilai Pancasila akan terinternalisasikan dan relevan dalam menjawab dan mengatasi persoalan kebangsaan.

Kita melihat, realitas saat, ini, sebagian pihak justru menggunakan Pancasila sebagai semacam indoktrinasi—sehingga alih-alih mampu mempererat persatuan dan kesatuan bangsa—justru memicu polemik dan gesekan antar satu kelompok dengan kelompok lain.

Lantas, bagaimana menghidupkan diskursus Pancasila sehingga menemukan pemaknaan baru yang relevan bagi generasi bangsa? Siapa saja yang mesti melakukan upaya ini? Apa sesungguhnya tantangan terbesar bangsa kita dalam upaya ini?

Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, Radio Idola Semarang berdiskusi dengan beberapa narasumber, yakni: Radhar Panca Dahana (Budayawan, koordinator Mufakat Budaya Indonesia) dan Prof Purwo Santoso (rektor Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta). (Heri CS)

Berikut diskusinya:

Artikel sebelumnyaASN Harus Netral di Tahun Politik 2019
Artikel selanjutnyaMerefleksi Hari Guru 2018, Bagaimana Membangun dan Meningkatkan Profesionalisme Guru di Era Revolusi Industri 4.0?

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini