Bagaimana Membangun Kebersamaan di Tahun Politik di Tengah Ancaman Pembelahan Sosial dan Memudarnya Solidaritas Bangsa?

Semarang, Idola 92.6 FM – Tahun 2018 telah kita lewati bersama. Kita mulai memasuki tahun 2019—tahun politik yang penuh dengan harapan sekaligus tantangan bagi bangsa ini. Pada 17 April 2019 hajatan besar dalam berdemokrasi akan digelar.

- Advertisement -

Merujuk pada Tajuk Rencana Kompas (03/01/2019), Pemilu merupakan perwujudan sistem ketatanegaraan yang demokratis. Oleh karena itu, jika Pemilu 2019 sukses digelar tentunya akan semakin mengokohkan posisi bangsa Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia. Sebaliknya, jika gagal bukan tidak mungkin bangsa ini kembali mundur jauh ke belakang—tertinggal di antara bangsa-bangsa lain di dunia.

Persoalan yang perlu menjadi perhatian bersama di tahun politik ini adalah memudarnya solidaritas bangsa. Jejak pendapat Kompas di pengujung tahun 2018 merekam adanya kecemasan yang tinggi dari masyarakat akiba maraknya berita bohong di media social. Mayoritas responden pun khawatir Pemilu 2019 dapat menimbulkan pertengkaran di lingkungan sekitar atau mengurangi rasa kebersamaan di lingkungan sekitar.

Membaca perbincangan di media sosial saat ini, terasa betul ada ketegangan dalam diskusi menyangkut politik Pemilu. Sentimen isu suku, agama, ras, kelompok atau antargolongan (SARA) mengemuka. Kondisi ini pun dimanfaatkan tim sukses atau kelompok pendukung demi kepentingan elektoral. Di sisi lain, banyak pula tokoh mencuit hal-hal yang penuh sensasi ketimbang substansi. Menularkan pesimisme ketimbang menyebarkan optimism bangsa.

Lantas, di tengah situasi semacam ini, bagaimana membangun kebersamaan di tahun politik di tengah ancaman pembelahan sosial dan memudarnya solidaritas bangsa? Dalam negara demokrasi, civil society pun bisa mengambil posisi sentral untuk membangkitkan kesadaran baru demi perbaikan bangsa—Bagaimana mewujudkannya? Apa tantangan terbesar kita melewati semua ini?

Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, Radio Idola Semarang berdiskusi dengan beberapa narasumber, yakni: Prof Siti Zuhro (Profesor Riset LIPI) dan Suwidi Tono (Koordinator Forum “Menjadi Indonesia”). (Heri CS)

Berikut diskusinya: