Menakar Efektivitas Pembangunan Infrastruktur, Sudahkah Mampu Menjadi Daya Ungkit Ekonomi?

Semarang, Idola 92.6 FM – Pembangunan infrastruktur digeber pemerintahan Jokowi-JK selama kurang lebih 4 tahun terakhir. Pembangunan infrastruktur konektivitas dilakukan untuk mempermudah mobilitas masyarakat dalam bekerja dan berusaha. Pemerintah berpandangan, selain untuk pemerataan distribusi barang/jasa, pembangunan ini juga akan meningkatkan produktivitas masyarakat dan daya saing. Beberapa infrastruktur konektivitas itu antara lain: jalan dan jembatan, kereta api, Bandar udara, dan pelabuhan.

Namun, sejumlah pihak menilai, pembangunan infrastruktur belum berdampak seperti diharapkan. Alih-alih mendapat pujian, sejumlah pengusaha justru mengeluhkan biaya tol Trans-Jawa yang dinilai relatif mahal. Bahkan, pembangunan Proyek light rail transit (LRT) Palembang yang menghabiskan biaya yang mahal, yakni mencapai Rp10,9 triliun justru sepi dan merugiKonon, pengelola rugi 2 miliar per bulan karena sepi penumpang.

Di sisi lain, berdasarkan catatan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), pembangunan infrastruktur era Jokowi tidak memberikan dampak yang signifikan atas penyediaan lapangan kerja. Belum lagi, dampak pembangunan tol ini juga secara tidak langsung akan membuat warung-warung rakyat dan UMKM akan gulung tikar di sepanjang jalur Pantura. Sementara dari sisi pembiayaan infrastruktur, juga dipertanyakan, apakah pembangunan yang dilakukan Jokowi sudah memberikan dampak positif atas konten bahan baku dan tenaga kerja lokal yang digunakan.

Lantas, sudahkah pembangunan infrastruktur berdampak signifikan bagi perekonomian? Jika belum, bagaimana mestinya? Sejumlah pengusaha jasa angkutan mengeluhkan tingginya biaya tol Trans Jawa, bagaimana mestinya pemerintah menyikapi hal itu? Dari evaluasi pembangunan infrastruktur ke depan, apa yang mestinya dilakukan presiden—siapapun yang terpilih dan bagaimana mestinya arah pembangunan infrastruktur? Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, Radio Idola Semarang mewawancara Pengamat dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati. (Heri CS)

Berikut wawancaranya:

Artikel sebelumnyaBagaimana Mengatasi Problem Stunting di Tengah Menyongsong Puncak Bonus Demografi?
Artikel selanjutnyaTarif Tol Trans Jawa Mahal, Aptrindo Tanjung Emas Semarang Tetap Pilih Jalur Pantura

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini