Menimbang Performa dan Kinerja Menteri Kabinet Kerja di Tengah Isu Reshuffle

Semarang, Idola 92.6 FM – Mendekati masa jabatan terakhir Kabinet Kerja Pemerintah Joko Widodo-JK, nasib menteri-menteri sedang hangat dibicarakan. Isu reshuffle pun berhembus. Adanya isu reshuffle kabinet menjelang akhir periode Jokowi-JK muncul setelah sejumlah menteri terseret dalam proses hukum di KPK. Saat ini, setidaknya ada tiga menteri yang sedang tersangkut proses hukum yang sedang berlangsung di KPK. Mereka ialah Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, serta Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi.

Kabar reshuffle kabinet tersebut pun dipastikan Staf Khusus Presiden, Johan Budi SP. Ia menyebut ada kemungkinan Jokowi me-reshuffle kabinet setelah Idul Fitri. Namun Johan tidak memastikan apakah reshuffle di Kabinet Kerja akan berjalan pada Juni 2019.

Bhima Yudhistira, pengamat ekonomi Insititute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyebutkan, setidaknya ada 6 menteri ekonomi yang harus segera diganti. Pergantian ini sebaiknya dilakukan sebelum pelantikan presiden periode 2019-2024 Oktober nanti. Hal tersebut ia sarankan agar presiden mendatang dapat menilai performa menteri-menteri ekonomi baru.

Diketahui, Pemerintahan Jokowi-JK telah berjalan selama hampir 5 tahun. Selama itu pula, sudah terjadi enam kali perombakan menteri yang tergabung dalam Kabinet Kerja. Jika isu reshuffle ini nanti terbukti, maka ini akan menjadi reshuffle ke-7.

Lantas, menimbang performa dan kinerja menteri di tengah isu reshuffle Kabinet Kerja, siapa menteri yang layak diganti dan apa faktornya? Tepatkah pula momentum reshuffle di pengujung periode pemerintahan Jokowi? Bagaimana mengoptimalkan reshuffle di tengah usia pemerintahan yang hanya menyisakan beberapa bulan saja?

Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, Radio Idola Semarang berdiskusi dengan beberapa narasumber, yakni: Pengamat Ekonomi Insititute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira dan Peneliti LIPI Firman Noor. (Heri CS)

Berikut diskusinya:

Artikel sebelumnyaDinkes Boyolali Masih Punya Tanggungan 40 Ribu Warga Belum Punya Jamban Sehat Permanen
Artikel selanjutnyaMemindahkan Ibu Kota ke Kawasan Gambut, Apa Plus Minusnya?

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini