Mengenal I-Nose C-19, Alat Deteksi Covid-19 Kreasi Tim Peneliti ITS

Prof Riyanarto Sarno
Prof Drs Ec Ir Riyanarto Sarno MSc PhD, guru besar ITS Surabaya, pengembang i-Nose C-19. (photo dok Riyan)

Semarang, Idola 92.6 FM – Di tengah Pandemi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengembangkan i-nose c-19. Alat ini merupakan alat screening Covid-19 pertama di dunia yang mendeteksi melalui bau keringat ketiak (axillary sweat odor). Tim ITS sudah melakukan demo dan presentasi i-nose c-19 di depan Menteri Ristek BRIN, Dirjen dan Direktur, pada 19 Januari 2021.

i-Nose C-19
Perangkat i-Nose C-19 karya guru besar ITS Surabaya yang saat ini telah sampai pada fase satu uji klinis. (photo dok Riyan)

Guru besar ITS Surabaya Prof Drs Ec Ir Riyanarto Sarno MSc PhD menyatakan, alat tersebut bekerja dengan cara mengambil sampel dari bau keringat ketiak seseorang dan memprosesnya menggunakan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. i-nose c-19 juga dilengkapi fitur near-field communication (NFC) sehingga pengisian data cukup dengan menempelkan e-KTP pada alat deteksi cepat Covid-19 ini.

Selain terjamin dari segi biaya karena menggunakan komponen teknologi yang murah, i-nose c-19 juga tidak membutuhkan keahlian khusus dalam implementasinya. Menurut Prof Riyanarto, i-nose c-19 merupakan hasil penelitian selama empat tahun yang kemudian dioptimalkan dengan menyesuaikan virus Covid-19 sejak Maret 2019 lalu. Saat ini, i-nose c-19 telah sampai pada fase satu uji klinis.

Presentasi i-Nose C-19 dengan menteri
Tim ITS Surabaya saat mempresentasikan karyanya I-Nose C-19 di Kemenristek/BRIN pada 19 Januari 2021. (Photo: dok Riyan)

Selengkapnya, mengenal i-nose c-19, alat deteksi Covid-19 kreasi tim peneliti ITS Surabaya, berikut ini wawancara radio Idola Semarang dengan Prof Drs Ec Ir Riyanarto Sarno MSc PhD, guru besar ITS Surabaya yang mengembangkan inovasi alat deteksi Covid-19 melalui bau keringat ketiak. Ia juga guru besar ITS Surabaya yang masuk dalam Top 2% World Ranking Scientists. (yes/ her)

Dengarkan podcast wawancaranya:

Artikel sebelumnyaBanjir Kalsel: Di Antara Alih Fungsi Lahan dan Anomali Cuaca, Bagaimana Idealnya Posisi Pemerintah?
Artikel selanjutnyaEkspor Non Migas Jateng Masih Surplus

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini