Menghadapi Ujian Pandemi Covid-19, Apakah Kita Sudah Cukup Bersatu?

JokoWi
Presiden Jokowi saat menyampaikan pidato kenegaraan dengan mengenakan baju adat Badui. (Photo/Setpres)

Semarang, Idola 92.6 FM – Presiden Joko Widodo kembali menyampaikan pidato kenegaraan sebagai agenda tahunan pada Senin 16 Agustus lalu dalam sidang Tahunan MPR dan sidang bersama DPR-DPD di Gedung DPR/MPR/DPD Senayan, Jakarta. Sejumlah pihak merespons positif namun tak sedikit pula yang menanggapinya negatif.

Salah satu poin yang mendapat porsi lebih dalam pidato Presiden adalah perihal daya tahan bangsa yang selalu diuji dengan berbagai persoalan. Namun, Presiden Jokowi juga menyampaikan dirinya bersyukur, bangsa Indonesia tetap kokoh berdiri dan berhasil melalui etape-etape ujian yang berat.

“Alhamdulillah, kita berhasil melampauinya. Kemerdekaan Republik Indonesia bukan diperoleh dari pemberian ataupun hadiah, tetapi kita rebut melalui perjuangan di semua medan,” kata Jokowi dalam pidatonya.

Presiden menyampaikan bahwa pandemi selama satu setengah tahun lebih telah menguatkan perilaku dan infrastruktur kesehatan di Indonesia. Jokowi mengungkapkan pula sejumlah poin penting terkait kesehatan dan penanganan pandemi Covid-19. Di antaranya, kesadaran, partisipasi, dan kegotongroyongan masyarakat dinilai semakin baik di bidang kesehatan. Kelembagaan pemerintah pada lintas sektor juga membuat kapasitas sektor kesehatan meningkat pesat.

Kemudian, kesadaran masyarakat terhadap kesehatan semakin tinggi. Hal ini dilihat dari kebiasaan mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak telah menjadi kesadaran baru.

Lantas, ketika Presiden Jokowi dalam pidato kenegaraannya mengaku bersyukur bahwa kita bisa melalui titik krusial, pertanyaan kita, benarkah kita sudah melewati bagian paling berat dari ujian bangsa ini? Apa saja, skenario yang telah membebaskan kita dari bahaya? Menghadapi ujian pandemi ini, apakah kita sudah cukup bersatu? Apa pula yang mesti kita tingkatkan ke depan agar eksistensi bangsa Indonesia kian kuat, hebat dan teruji?

Untuk memperoleh gambaran atas persoalan ini, kami nanti akan berdiskusi dengan beberapa narasumber yakni: Wasisto Raharjo Jati (Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)); Dr. Tri Yunis Miko Wahyono (Epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI)); dan Prof Tri Marhaeni Pudji Astuti (Dosen Jurusan Sosiologi dan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang (UNNES)). (her/ yes/ ao)

Dengarkan podcast diskusinya:

Artikel sebelumnya138 Napi di Jateng Langsung Bebas Usai Terima Remisi HUT RI
Artikel selanjutnyaMengenal Hanna Arini Parhusip, Dosen UKSW yang Mengembangkan Motif Batik dari Rumus Matematika

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini