BPS: Awal Tahun Belum Ada Wisman Datang Berkunjung ke Jateng

Adhi Wiriana, Kepala BPS Jateng
Adhi Wiriana, Kepala BPS Jateng.

Semarang, Idola 92,6 FM – BPS Jawa Tengah mencatat, pada awal tahun ini belum ada kunjungan wisatawan mancanegara yang datang ke provinsi ini meskipun sudah terjadi pelonggaran kebijakan. Apabila ada wisatawan mancanegara yang berkunjung ke obyek wisata di Jateng, dimungkinkan melalui pintu kedatangan dari Bandara Ngurah Rai Bali atau di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Kepala BPS Jateng Adhi Wiriana mengatakan meskipun Bandara Internasional Adi Sumarmo Solo dan Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang sudah dibuka, namun dari segi yang berkunjung (wisatawan) ke Jateng relatif masih sama dengan tahun sebelumnya. Yaitu, belum ada penerbangan luar negeri yang masuk ke Jateng. Pernyataan itu dikatakan melalui kanal YouTube BPS Jateng, kemarin.

Menurutnya, pada tahun ini belum ada wisatawan mancanegara yang datang berkunjung ke Jateng melalui pintu kedatangan kedua bandara tersebut. Padahal, pada 2021 sempat ada sembilan orang wisatawan mancanegara.

Adhi menjelaskan, kondisi tersebut juga berimbas pada keterisian kamar hotel berbintang di wilayah Jateng. Bahkan, pada Februari 2022 terjadi penurunan sebesar 1,79 poin dibandingkan kondisi pada bulan sebelumnya.

“Dibandingkan kondisi dari tahun ke tahun atau Februari 2022 dengan Februari 2021, terjadi kenaikan sebesar 10,95 poin. Yaitu dari nilai tingkat keterisian kamar tertinggi di bintang empat pada Januari 2022, sebesar 47,39 poin di Februari 2022 turun menjadi 43,40 poin. Dan ini dibandingkan kondisi pada 2021 itu lebih baik, karena tahun 2021 hanya 30,38 poin,” kata Adhi.

Lebih lanjut Adhi menjelaskan, secara rerata tingkat keterisian kamar hotel berbintang terlihat fluktuatif dibanding tahun sebelumnya.

“Rata-rata lama tamu menginap di hotel berbintang, pada bulan Februari 2022 terjadi kenaikan tetapi tidak terlalu tinggi. Yaitu 0,04 poin, dari 1,35 hari menginap naik menjadi 1,39 hari,” pungkasnya. (Bud)

Artikel sebelumnyaAkan Efektifkah, “BLT Minyak Goreng” Dalam Meredam Dampak Kenaikan Minyak Goreng di Masyarakat?
Artikel selanjutnyaUniversitas Pertamina Inisiasi Sekolah Wirausaha Bagi Mahasiswa