Evaluasi Penanganan Covid-19 Pascalebaran

Ilustrasi
Ilustrasi/istimewa

Semarang, Idola 92.6 FM – Pemerintah memperpanjang Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di seluruh Indonesia meski angka kasus penularan virus corona terus menurun dalam dua pekan terakhir.

Hal itu disampaikan Ketua Koordinator Penanganan Covid 19 wilayah Jawa-Bali, Luhut Binsar Pandjaitan, Senin (09/05) kemarin. Menurut Luhut, kondisi pandemi di Indonesia terus membaik termasuk selama libur Lebaran  tahun ini. Dalam 25 hari terakhir kasus harian di bawah 1.000 kasus. Selain itu, angka pasien rawat inap terus menurun, diikuti penurunan keterisian tempat tidur RS atau BOR tinggal sebesar 2 persen. Kematian pun juga turun hingga 98 persen.

Kasus Covid-19 di Indonesia memang terus menurun dalam dua bulan terakhir. Meski demikian, munculnya kasus tetap harus diwaspadai. Apalagi, dengan diperbolehkannya masyarakat melakukan mudik Lebaran tahun ini yang memicu kerumunan orang dan mobilitas warga.

Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman, misalnya. Ia mengatakan, kasus Covid-19 usai libur Lebaran 2022 baru akan terlihat sekitar satu bulan mendatang. Namun hal itu  juga bergantung seberapa baik upaya deteksi yang dilakukan. Perkiraan waktu tersebut, menurut Dicky, merupakan yang paling ideal– mengingat pemerintah juga mewajibkan pemudik untuk memperoleh vaksinasi penguat sebelum melakukan aktivitas mudik Lebaran tahun ini untuk mencegah gelombang kasus meski tidak diketahui pasti bagaimana kepatuhan pemudik pada ketentuan itu.

Lantas, mengevaluasi penanganan Covid-19, bagaimana sebenarnya situasi terkini penanganan Covid-19 pasca Lebaran? Sudah tepatkah langkah pemerintah yang memperpanjang PPKM di seluruh Indonesia meski angka kasus penularan Covid-19 terus menurun?

Untuk memperoleh gambaran atas persoalan ini, radio Idola Semarang berdiskusi dengan narasumber, di antaranya: Dr Windhu Purnomo (Ahli Epidemiologi Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya), dr. Siti Nadia Tarmizi (Juru Bicara Vaksin Covid-19 Kementerian Kesehatan), dan Prof Zubairi Djoerban (Ketua Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI)). (her/yes/ao)

Simak podcast diskusinya:

Artikel sebelumnyaBandara Ahmad Yani Layani 75 Ribu Pemudik
Artikel selanjutnyaMengenal Inovasi “Semar Bone Graft” karya Prof Joko Triyono

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini