Paradoks Politisi di Tengah Rakyat Tengah Menghadapi Krisis Minyak Goreng

Mega Ironi
ilustrasi/Twitter/KerjaHasilID

Semarang, Idola 92.6 FM – Partai politik melalui para politisinya, sesungguhnya memiliki fungsi, mendistribusikan keadilan dan kesejahteraan bagi warga negara sebagai konstituennya. Parpol melalui wakil-wakilnya di DPR, menjadi representasi aspirasi rakyat.

Dan, terkini, ketika rakyat kalang kabut menghadapi krisis kebutuhan pokok, khususnya minyak goreng. Maka rakyat seolah menagih …. di mana peran politisi, “untuk mendistribusikan keadilan dan kesejahteraan bagi warga” itu.

Alih-alih menjadi bagian dari solusi, sebagian justru hanya memanfaatkan situasi demi mencari perhatian publik dan tidak mencerminkan sense of crisis. Paling sedikit, itulah yang tercermin, ketika Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri mengkritik kreativitas ibu-ibu dalam memasak karena terlalu mengandalkan minyak goreng.

Megawati mengaku heran, ibu-ibu rela mengantre minyak goreng, ketimbang mengubah cara mengolah masakan dengan merebus. Menurutnya, merebus lebih berguna bagi kesehatan ketimbang terus menerus menggunakan minyak dalam membuat olahan masakan.

Mega Ironi
ilustrasi/Twitter/KerjaHasilID

Maka, sikap Megawati ini pun mendapat kritik luas dari masyarakat. Ia maupun PDIP dianggap tak pantas lagi mengklaim sebagai wakil ‘wong cilik’ karena komentarnya tersebut.

Kita memahami bahwa anjuran untuk tidak melulu mengandalkan minyak goreng, harus diakui sebagai anjuran yang baik. Hanya persoalannya, anjuran itu tidak serta merta bisa menafikan kelangkaan minyak goreng. Lagi pula, toh tidak semua màkanan harus direbus; sehingga anjuran itu terkesan bukan menjadi upaya parpol untuk menjadi solusi bagi konstituennya, melainkan sekadar sebagai pengalihan perhatian

Komentar Megawati soal Minyak Goreng pada webinar bertajuk “Cegah Stunting untuk Generasi Emas” di kanal Youtube.

Lantas, ketika parpol yang dalam kampanye politiknya selalu mengklaim pro terhadap rakyat namun, ketika rakyat sedang menghadapi persoalan, mereka justru seolah tak hadir di tengah-tengahnya? Maka, hal itu mencerminkan fenomena apa? Bagaimana mestinya parpol agar menjadi solusi bagi masalah yang dihadapi rakyat bukan hanya menjadikan rakyat  sebagai komoditas politik di bilik suara Pemilu?

Untuk memperoleh gambaran atas persoalan ini, radio Idola Semarang berdiskusi dengan narasumber, di antaranya: Kunto Adi Wibowo (Direktur Eksekutif Lembaga survei KedaiKOPI) dan Ujang Komarudin (Akademisi/ Pakar politik dari Universitas Al Azhar Indonesia). (her/yes/ao)

Dengarkan podcast diskusinya:

Artikel sebelumnyaKota Semarang Kembali PPKM level 2, Hendi Minta Warga Untuk Segera Vaksinasi Booster
Artikel selanjutnyaMengenal SDN 02 Langensari, Peraih Penghargaan Sekolah Adiwiyata Tingkat Nasional 2021