Belajar dari Banjir Bandang di Humbang Hasundutan Sumut: Alam, Seperti Memberi Early Warning System, Maka, Bagaimana Kita Mesti Merespons?

Material longsoran
Material longsoran menghantam pemukiman dan rumah ibadah. (Photo/tvOne)

Sumut, Idola 92.6 FM – Banjir bandang dan longsor terjadi di Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatra Utara, terjadi pada Jumat 1 Desember 2023. Sebanyak 12 orang dilaporkan menjadi korban dalam bencana alam tersebut, dan 1 orang meninggal dunia.

Banjir bandang yang disertai tanah longsor menerjang permukiman di Desa Simangulampe, Kecamatan Bakti Raja, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatra Utara, pada Jumat (01/12) sekitar pukul 21.30 WIB. Akibat peristiwa tersebut, setidaknya 12 orang dilaporkan menjadi korban.

Kepala Kantor Badan Pencarian dan Pertolongan Nasional (Basarnas) Medan, Budiono, mengatakan satu dari 12 orang yang dilaporkan hilang telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Hingga berita ini ditulis, tim SAR gabungan masih melakukan upaya pencarian.

Desa yang diterjang banjir bandang dan longsor itu berada di kawasan Danau Toba. Korban yang meninggal dunia ditemukan di tepi danau terluas se-Asia Tenggara tersebut.

Lalu, belajar dari banjir bandang yang menewaskan 1 orang dan belasan orang masih hilang: Maka, bagaimana kita mesti bergegas? Upaya mitigasi apa yang perlu segera dilakukan untuk meminimalisir dampak bencana hidrometeorologi dan lemahnya daya dukung lingkungan?

Untuk memperoleh gambaran atas persoalan ini, radio Idola Semarang berdiskusi dengan narasumber, Pengamat Lingkungan dari Program Magister Lingkungan dan Perkotaan Soegijapranata Catholic University Semarang, Hotmauli Sidabalok,PhD. (her/yes/ao)

Simak podcast diskusinya:

Artikel sebelumnyaBagaimana Perguruan Tinggi Indonesia Mengambil Manfaat Secara Optimal pada Program Higher Education Partnership Initiative (HEPI)?
Artikel selanjutnyaSatu Lagi Tersangka Pengemplang Pajak Diserahkan ke Kejaksaan