Bagaimana Upaya Meredam Ancaman Toleransi yang Kian Kompleks di Tengah Kontestasi Politik Jelang Pemilu 2019?

Semarang, Idola 92.6 FM – Indonesia sejatinya dibangun atas bangunan keragaman etnis, suku dan agama. Mereka diikat oleh satu spirit bangsa Bhineka Tunggal Ika dan dilandasai filosofi Pancasila. Namun, kini memasuki tahun politik jelang Pemilu Raya 2019, kita mesti mewaspadai keutuhan itu. Ada banyak ancaman di depan mata. Ancaman itu antara lain bernama isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Kontestasi politik membuat tantangan untuk mewujudkan semangat toleransi menjadi semakin kompleks.

Faktanya, dalam rentang waktu November 2017 hingga Oktober 2018, Setara Institute melakukan kajian terhadap 94 kota di Indonesia terkait isu promosi dan praktik toleransi. Sumber data diperoleh dari dokumen resmi pemerintah kota, Biro Pusat Statistik, Komisi Nasional Perempuan, Setara Institute dan referensi media terpilih.

Penilaian didasarkan pada empat variable yakni regulasi yang kondusif bagi praktik dan promosi toleransi; pernyataan tindakan aparatur pemerintah kota tersebut; tingkat peristiwa dan tindakan pelanggaran kebebasan beragama, berkeyakinan; serta upaya kota tersebut dalam tata kelola keberagaman identitas keagamaan warganya.

Ketua Setara Institute Hendardi mengatakan, setelah melihat hasil kajian lembaganya, mewujudkan semangat toleransi ternyata masih menjadi tantangan hingga saat ini. Adanya potensi pemakaian politik identitas di Pemilu 2019 membuat tantangan untuk mewujudkan toleransi semakin kompleks.

Lantas, di tengah kontestasi politik jelang Pemilu 2019, bagaimana upaya meredam ancaman toleransi yang kian kompleks? Apa sesungguhnya kunci dalam upaya menghalau ancaman isu SARA di era Post-truth dan politik identitas? Apa tantangan terbesar kita terkait persoalan ini?

Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, nanti kita akan berdiskusi dengan beberapa narasumber, yakni: Direktur Riset Setara Institute/ Dosen Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta Halili dan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya Prof Masdar Hilmy. (Heri CS)

Berikut diskusinya:

Artikel sebelumnyaJalan Tol Perlu Diberi Jembatan Timbang Cegah Truk Kelebihan Muatan
Artikel selanjutnyaBagaimana Meningkatkan Kompetensi Lulusan Perguruan Tinggi di Tengah Menyongsong Puncak Bonus Demografi?

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini