Refleksi Hari Pahlawan, Bagaimana Menanamkan Semangat Patriotisme pada Warga Negara di Era Kekinian?

Semarang, Idola 92.6 FM – Dari segi konsepnya, semangat patriotik didefinisikan sebagai semangat cinta akan tanah air dan sanggup berkorban nyawa demi mempertahankan negara tercinta. Bill Totten (1998) menjelaskan, patriotisme bermaksud semangat cinta Negara. Menurutnya, tidak ada bangsa, keluarga, pasukan dan kumpulan dalam bentuk apa pun yang boleh berfungsi dengan baik melainkan semua cinta negara.

Dalam konteks ini, setiap warga negara perlu dibimbing untuk menganalisis dan menilai fakta-fakta sejarah secara rasional. Seluruh rakyat dapat membina kekuatan semangat cinta akan Negara. Tidak dinafikan sistem pendidikan di negara kita mendukung semangat patriotisme melalui pendidikan sejarah. Artinya, nilai-nilai patriotisme bisa disemai melalui kurikulum pendidikan. Namun sayangnya, guru sejarah dinilai cenderung terpaku silabus. Tugas administratif menyita waktu mereka sehingga kurang inovatif padahal guru sejarah ditantang untuk menyampaikan materi kepada siswa secara menarik dan kontekstual.

Di sisi lain, jelang memperingati hari Pahlawan 10 November, kita menghadapi problem sikap dan pandangan anak muda akan sosok pahlawan. Pahlawan di mata mereka tidak identik dengan pejuang kemerdekaan, tetapi orang-orang yang berjuang untuk kebenaran dan kesejahteraan. Demikian hasil jajak pendapat Litbang Kompas di kalangan pelajar SMA dan mahasiswa yang berusia minimal 16 tahun di 11 kota di Indonesia.

Hasil jajak pendapat ini tidak terlalu mengejutkan. Namun, yang perlu menjadi catatan bersama, ternyata para pelajar dan mahasiswa tersebut sebagian besar tidak bisa menyebutkan 10 nama pahlawan nasional dalam waktu satu menit. Kalaupun bisa menyebutkan sejumlah nama pahlawan, mereka tidak bisa menjelaskan lebih jauh tentang peran kepahlawanannya. Ironisnya, mereka justru dengan sangat lancar bisa menyebutkan sosok pahlawan super. Misalnya, Superman, Spiderman, Batman, Black Panther, Hercules, Thor dan tokoh pahlawan rekaan dari negara entah barantah.

Melihat fakta itu, tentu ada yang patut dikritisi dengan system pendidikan kita sehingga para pelajar dan mahasiswa tidak mengenal nama dan peran pahlawan bangsa sendiri. Padahal, para pahlawan telah memberikan andil yang luar biasa besar untuk berdirinya bangsa ini. Kondisi ini juga diperparah dengan cara penyajian pelajaran Sejarah di depan kelas yang sebagian besar monoton dan tidak kreatif sehingga menjemukan siswa.

Terlepas apa pun, pelajaran sejarah diharapkan bisa menjadi medium pemupukan jiwa-jiwa patriotis, karakter kuat dan daya juang. Sehingga muncul adagium, historia magistra vitae–sejarah adalah Guru yang terbaik. Sejarah merupakan sebuah pengalaman yang akan menjadikan kita bijaksana dan ‚Äúpintar’ yang membuat suatu bangsa menjadi arif bijaksana dan tidak akan mengulang kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan oleh para pendahulunya.

Lantas, dapatkah atau sudahkah mata pelajaran Sejarah mampu menjadi medium pemupukan nilai-nilai karakter, patriotisme dan daya juang? Jika belum, apa yang mesti dibenahi agar pengajaran sejarah tidak monoton dan tetap relevan dengan zaman? Bagaimana pula menanamkan semangat kepahlawanan pada diri warga wegara di era kekinian?

Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, Radio Idola Semarang berdiskusi dengan beberapa narasumber, yakni: Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah/ Koordinator Pendidikan Profesi Guru Sejarah Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Abrar dan Direktur Sejarah Kemendikbud RI Triana Wulandari. [Heri CS]

Berikut diskusinya:

Artikel sebelumnyaDaerah Bencana Semakin Meluas, Apa Penyebab dan Bagaimana Mengatasi Dampaknya?
Artikel selanjutnyaHadi: Infrastruktur Jalan di Jateng Harus Semua Dalam Kondisi Baik
Editor In Chief Radio Idola Semarang.