Dinkop Jateng Bekali Konsultan Pendamping Koperasi-UKM Lebih Berkualitas

Kabid Restrukturisasi dan Pembiayaan Dinkop UKM Jateng Shondy Purwoko memberi pembekalan kepada pendamping koperasi-UKM se-Jateng di Hotel @hom Cilacap, Selasa (9/4).

Cilacap, Idola 92.6 FM – Perkembangan UKM di Jawa Tengah terus mengalami pertumbuhan setiap tahunnya, dan pada triwulan keempat 2017 tercatat ada 133.679 UKM. Ratusan UKM itu mampu menyerap 918.455 orang, dengan aset yang dimiliki sebesar Rp26,249 miliar dan omsetnya mencapai Rp49,247 miliar. Sedangkan jumlah koperasi pada triwulan yang sama sebesar 25.906 koperasi, 21.455 unit atau 82,81 persen di antaranya aktif, sedang sisanya tidak aktif.

Kepala Bidang Restrukturisasi dan Pembiayaan Dinas Koperasi dan UKM Jateng Shondy Purwoko mengatakan untuk mengembangkan dan mewujudkan masyarakat semakin sejahtera, diperlukan adanya sinergitas program-program yang direncanakan. Misalnya dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia koperasi-UKM, ataupun pendampingan koperasi-UKM. Pernyataan itu dikatakannya saat menjadi pembicara di rapat koordinasi pengembangan Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) di Hotel @hom Cilacap, Selasa (9/4).

Menurutnya, kegiatan rakor pengembangan PLUT se-Jateng itu sebagai upaya meningkatkan kualitas pendamping koperasi-UKM. Sehingga, para pendamping koperasi-UKM di Jateng bisa memberikan layanan konsultasi terkait pengelolaan manajemen usaha.

Shondy menjelaskan, melalui rakor untuk menyamakan misi dan fungsi dari pendamping usaha bisa lebih berkualitas, diharapkan bisa mengatasi permasalahan yang dihadapi pelaku koperasi-UKM. Terutama dari segi keuangan, produksi, pemasaran dan permodalan.

“Jadi, untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia konsultan perlu memang senantiasa dilakukan suatu pencerahan-pencerahan yang baru. Sehingga, harapan kami dari konsultans itu mempunyai bekal yang cukup di dalam rangka pembinaan UMKM. Kita ketahui, bahwa pendamping-pendamping UMKM itu merupakan kunci dari keberhasilan suatu UMKM. Karena, masih banyak pelaku UMKM tidak memahami atau belum tahu bagaimana pembiayaan dan pemasaran,” kata Shondy.

Lebih lanjut Shondy menjelaskan, selama ini PLUT dan UMKM Center merupakan jembatan antara koperasi-UKM dengan masyarakat sebagai konsumen. Kehadiran PLUT juga bisa menjadi wirausaha yang kuat, dan mampu bersaing dengan para kompetitor.

“Intinya, perlu ada upaya untuk meningkatkan kualitas pendamping koperasi-UKM dalam memberi layanan konsultasi, serta pendampingan usaha kepada pelaku koperasi-UKM di Jawa Tengah,” jelasnya.

Shondy berharap, dengan peningkatan kualitas pendamping koperasi-UKM di Jateng akan mampu mengembangkan potensi dan sumber daya lokal. Terutama, mendukung kebijakan one village one product (OVOP) di setiap kabupaten/kota di provinsi ini. (Bud)

Artikel sebelumnyaMunculnya Gerakan Kerelawanan Nonpartisan, Seberapa Signifikan dan Relevan di Tengah Tantangan Kompleksitas Penyelenggaraan Pemilu 2019?
Artikel selanjutnyaPolisi Sita Sabu 8 Kg di Sebuah Apartemen di Kota Semarang

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini