Kader Jumantik Bisa Minimalkan Penyebaran Demam Berdarah

Semarang, Idola 92.6 FM – Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah Yulianto Prabowo mengatakan musim hujan yang sudah mulai datang, perlu diantisipasi munculnya penyakit demam berdarah (DB). Karena, lingkungan yang kotor dan banyak genangan air menjadi sarang bagi nyamuk pembawa virus DB.

- Advertisement -

Sepanjang 2018 kemarin, jelas Yulianto, jumlah kasus DB mengalami penurunan bila dibanding tahun sebelumnya. Yakni, 8,68 kasus per 100 ribu jiwa penduduk. Sedangkan di 2017, jumlahnya mencapai 22 kasus per 100 ribu jiwa penduduk.

Menurutnya, kasus DB yang tertinggi di wilayah Jateng terjadi di Kabupaten Magelang sebesar 39 kasus per 100 ribu jiwa penduduk.

Yulianto menjelaskan, untuk mengurangi angka kasus DB di wilayah Jateng dibutuhkan peran aktif dari masyarakat. Salah satunya, dengan menunjuk satu anggota keluarga menjadi juru pemantau jentik atau Jumantik. Tujuannya, memastikan tidak ada jentik nyamuk di sekitar rumah.

“Jadi untuk itu, saya mengimbau kepada warga mewaspadai demam berdarah. Jadi, pemberantasan yang paling efektif dan sederhana serta murah adalah masyarakat sendiri. Sejak awal kami minta setiap rumah tangga, punya juru pemantau jentik atau jumantik. Satu rumah satu jumantik, tugasnya memastikan setiap rumah tidak ada jentik nyamuk,” kata Yulianto, Jumat (11/1).

Yulianto lebih lanjut menjelaskan, bagi keluarga yang mendapati ciri-ciri demam selama dua hari tanpa batuk dan pilek bisa segera membawa ke dokter untuk mendapatkan penanganan. Sehingga, tidak sampai menjadi suspect DB dan tak tertangani.

Humas RS Elisabeth Semarang Probowatie membenarkan, kesadaran tentang kesehatan yang mulai meningkat di masyarakat menjadikan rumah sakit mudah memberikan pelayanan kesehatan.

Probowatie mengatakan masyarakat sekarang ini cenderung melek akan sebuah penyakit. Sehingga, masyarakat memilih segera memeriksakan anggota keluarga yang sakit ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan.

Terkait dengan kasus DB, jelas Probowatie, untuk RS Elisabeth pada Desember 2018 kemarin selama sebulan ada 21 pasien. Dan sampai pekan pertama di Januari 2019, sudah ada 22 pasien yang dirawat karena DB.

“Kalau Desember kemarin ada 21 pasien, dan sampai hari ini 22 pasien. Ya ada kenaikan lah, tetapi masih dalam taraf wajar. Pasiennya ada yang dewasa dan anak-anak, tapi tidak terlalu signifikan jumlahnya. Rata-rata pasien yang masuk itu trombositnya memang sudah menurun, sehingga keluarga sekarang care langsung membawa ke rumah sakit,” kata Probo, Jumat (11/1).

Probowatie lebih lanjut menjelaskan, memang untuk pencegahan DB perlu kepedulian dari masyarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk di lingkungan tempat tinggalnya. (Bud)