Bagaimana Membangun Komunikasi Efektif dalam Menanggulangi Pandemi?

Ilustrasi

Semarang, Idola 92.6 FM – Siapa bilang komunikasi itu mudah? Ada banyak bukti, yang menunjukkan bahwa komunikasi sama sekali bukan persoalan mudah. Salah satu bukti yang paling jelas adalah komunikasi publik yang dibangun untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menghadapi Covid-19. Masih sangat banyak orang yang kurang menyadari bahayanya Covid-19 atau pentingnya memakai masker dan mematuhi protokol kesehatan.

Data terkini dari Satgas Covid-19 juga menunjukkan, bahwa persentase tingkat kepatuhan masyarakat dalam disiplin memakai masker juga menurun. Bahkan kita mendengar, masih ada sebagian masyarakat yang belum percaya pada keberadaan virus corona.

Padahal, komunikasi publik menjadi salah satu kunci kesuksesan penanganan Covid-19. Komunikasi yang efektif akan membantu memutus rantai penularan virus corona. Sehingga, diperlukan optimalisasi penyediaan, dan penyampaian informasi terkait Covid-19 secara transparan, akuntabel efektif, dan efisien.

Pakar epidemiologi dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman, mengatakan, penanggulangan Covid-19 membutuhkan strategi komunikasi. Kalau mau masyarakat berubah, mesti dimulai dari para pemimpin. Salah satu “PR besar” yang sampai saat ini belum selesai dituntaskan menurut Dicky adalah menyangkut strategi komunikasi yang baik dan benar.

Lantas, bagaimana cara membangun komunikasi efektif dalam menanggulangi Pandemi selama menunggu vaksinasi? Bagaimana cara meyakinkan masyarakat, bahwa mengetatkan protokol kesehatan 3 M adalah satu-satunya perlindungan yang nyata mengingat vaksin yang tersedia masih belum terbukti, tingkat perlingdungannya? Kemudian, sudahkah komunikasi yang dibangun pemerintah selama ini telah melibatkan tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan unsur pemuka masyarakat lainnya?

Untuk memperoleh gambaran atas persoalan ini, radio Idola Semarang berdiskusi dengan beberapa narasumber, yakni: dr Syahrizal Syarief (Juru Wabah/ Epidemiolog Universitas Indonesia); Maulina Pia Wulandari (Pakar Komunikasi dan Manajemen Krisis, Universitas Brawijaya (UB) Malang); dan Hendri Satrio (Pengamat Komunikasi Politik). (andi odang/her)

Dengarkan podcast diskusinya:

Artikel sebelumnyaRizki Hamdani, Penggerak Santri Mandiri di Kota Jombang
Artikel selanjutnyaPunya Materai Rp3 Ribu dan Rp6 Ribu Masih Bisa Dipakai Sampai Akhir 2021

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini