Benarkah Intoleransi Antar-Umat Beragama Kian Meningkat?

Intolerance

Semarang, Idola 92.6 FM – Melihat sejarah bangsa kita sejak dahulu dikenal sebagai bangsa yang plural dan kosmopolit. Artinya, sejak nenek moyang kita dulu, bangsa kita begitu terbuka dalam menerima perbedaan suku, ras, dan agama, baik dengan etnis lain dari luar negeri, terlebih antar suku-suku yang ada di dalam negeri.

Berdasarkan sejarah kita juga tahu, dahulu para pedagang Gujarat dari India, saudagar dari China, hingga bangsa-bangsa Eropa, seperti Portugis, Inggris, dan Belanda, berdatangan ke Nusantara. Sejauh literatur yang dapat kita pelajari, bangsa Indonesia menerima mereka semua dengan tangan terbuka.

Maka kini, terutama akhir-akhir ini, kita merasa sangat prihatin. Ketika terjadi gesekan-gesekan di masyarakat hanya karena beda suku dan agama. Bahkan, ada kecenderungan munculnya kelompok eksklusif, yang tidak mau menerima mereka yang ‘berbeda’. Hal ini jelas sangat berseberangan dengan prinsip dan dasar negara kita yang jelas-jelas “Bhineka Tunggal Ika’.

Evan Clementine
Evan Clementine. (Photo: IndoZone)

Salah satu kasus paling aktual terjadi dalam pemilihan ketua OSIS di SMAN 6 Depok. Pemilihan calon ketua OSIS SMAN 6 Depok periode 2020-2021 harus diulang hanya karena siswa yang terpilih, yaitu Evan Clementine adalah seorang non-muslim. Kasus ini sempat viral dan menarik perhatian pemerhati dunia pendidikan.

Lantas, mencermati fenomena intoleransi di sekolah—benarkah sikap Intoleransi justru mulai ‘ditangkarkan’ sejak di sekolah? Lalu, apa sesungguhnya penyebab berseminya benih intoleransi? Kapan mulai munculnya fragmentasi identitas primordial di masyarakat? Serta, bagaimana menyikapinya?

Untuk memperoleh gambaran atas persoalan ini, radio Idola Semarang berdiskusi dengan beberapa narasumber, yakni: Prof Komaruddin Hidayat (Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia); Henny Supolo Sitepu (Ketua Dewan Pengurus Yayasan Cahaya Guru); dan Prof Firman Noor (Kepala Pusat Penelitian Politik LIPI). (andi odang/her)

Dengarkan podcast diskusinya:

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini