Setahun Lebih Tidak Ada Job Manggung, Pengusaha Sound System Jual Aset

Bintoro
Bintoro menceritakan alasan menjual aset yang dimiliki di kawasan Taman Indonesia Kaya.

Semarang, Idola 92,6 FM – Pandemi COVID-19 yang terjadi lebih dari 1,5 tahun, membuat para pengusaha sound system harus menjual asetnya. Sebab, selama pandemi tidak ada lagi permintaan persewaan sound system untuk hajatan maupun hiburan lainnya.

Seorang sesepuh Komunitas Sound System Semarang (KS3) Bintoro mengatakan para pengusaha di bisnis persewaan sound system ini tidak bisa berkutik, dengan pandemi COVID-19 yang telah terjadi lebih dari 1,5 tahun itu. Hal itu dikatakannya saat ditemui di kawasan Taman Indonesia Kaya saat menjajakan peralatan sound system miliknya, kemarin.

Bintoro menjelaskan, dirinya dan juga rekan-rekan lainnya sesama pengusaha jasa persewaan sound system terpaksa menjual aset yang dimiliki untuk tetap bertahan hidup demi keluarga dan karyawan. Sedangkan beberapa rekan lainnya, justru menjual aset untuk membayar utang.

Menurut Bintoro, harga satu set peralatan sound system bekas dijual mulai Rp15 juta sampai Rp20 juta tergantung merek dan juga jumlah speaker serta powernya.

“Jadi mau tidak mau ya kita harus jual, jual aset yang kita punya. Kita punya komunitas sound system sekitar 50 orang, dan itu yang dijual sekitar 50 persennya. Sudah hampir 25 sound system, termasuk punya saya juga sudah saya jual karena saya sendiri juga mempunyai karyawan banyak dan harus menghidupi keluarganya. Jadi, mau enggak mau kita jual barang ini,” kata Bintoro.

Bintoro, sesepuh Komunitas Sound System Semarang (KS3):

Bintor lebih lanjut menjelaskan, selama berpuluh tahun dirinya menggantungkan hidup dengan hanya mengandalkan jasa persewaan peralatan sound system sebagai sumber pendapatannya. Sehingga, saat pandemi terjadi pada Maret 2020 kemarin membuat penghasilannya dari penyewaan peralatan sound system sedikit demi sedikit mulai menyusut drastis.

“Tidak ada yang menggelar panggung hiburan, tidak ada yang menyewa sound system untuk hajatan. Karena ada larangan penyelenggaraan kegiatan yang ngumpul-ngumpul itu,” pungkasnya. (Bud)

Artikel sebelumnyaPedagang Pasar Ketiban Rezeki
Artikel selanjutnyaMengenal Satgas Gerakan Remaja Cegah dan Peduli Covid (Gercep) Kota Semarang

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini