Mengenal Riset Seledri untuk Obat Penyakit Ginjal karya Tim Mahasiswa Unsoed Purwokerto

Tim mahasiswa Unsoed Purwokerto
Tim mahasiswa Unsoed Purwokerto yang melakukan penelitian terhadap selederi untuk obat sakit ginjal. (Photo dok Yoana)

Purwokerto, Idola 92.6 FM – Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto baru-baru ini melakukan penelitian penggunaan ekstrak seledri sebagai obat herbal penyakit ginjal. Mereka yakni mahasiswa dari Jurusan Pendidikan Dokter; Yoana Rizki Deviriandra, Shafira Audy Prameswari, Rizky Aliyah Putri, Ariadne Hapsari Putri Taufik, dan Athaya Helia Untari.

Di bawah bimbingan dr. Afifah, M.Sc, mereka melakukan penelitian terhadap seledri. Selama ini, seledri dikenal sebagai obat herbal pada kerusakan ginjal akibat adanya hambatan pada saluran kemih. Seledri memiliki kandungan flavonoid, alkaloid, steroid, fenol, dan senyawa kimiawi lainnya yang bersifat antioksidan dan antiinflamasi. Sehingga seledri dapat mencegah terjadinya stres oksidatif di ginjal.

Hasil penelitian tim mahasiswa Unsoed
Hasil penelitian tim mahasiswa Unsoed Purwokerto. (Photo dok Yoana)

Menurut Yoana Rizki Deviriandra anggota tim, timnya menggunakan selederi karena murah dan banyak yang memakainya. Setelah selederi dijadikan ekstrak, baru diuji coba ke tikus.

”Tikus yang sudah mengalami kerusakan ginjal, yang diberi ramuan. Efektivitasnya 14 hari,” tutur Yoana kepada radio Idola, pagi (22/09) tadi.

Ia menambahkan, setiap hari tikus-tikus tersebut dikasih ekstrak seledri.

Tim mahasiswa Unsoed Purwokerto
Tim mahasiswa Unsoed Purwokerto bersama pembimbing dr Afifah, M.Sc. (Photo dok Yoana)

Lalu bagaimana hasilnya? Apakah tikus yang diberi ramuan ekstrak selederi tidak mengalami kerusakan ginjal?

Selengkapnya, berikut ini wawancara radio Idola Semarang bersama anggota tim mahasiswa Unsoed, Yoana Rizki Deviriandra. (yes/her)

Simak podcast wawancaranya:

Artikel sebelumnyaBidik Segmen Premium, Citra Grand Luncurkan Cluster Blue Aqua
Artikel selanjutnyaAkankah Tenaga Honorer Menjadi Penghambat State Capacity Indonesia?