Jaman Now: Bukan Jaman Untuk Learning Tapi Untuk Unlearning

Saat ini, dunia sedang mengalami perubahan. Keterpisahan jarak dan waktu tidak lagi menjadi hambatan bagi orang-orang yang bekerja di industri kreatif. Dalam istilah Richard Florida disebutkan, “geography is dead”.

Hadirnya internet dan perangkat telekomunikasi dan transportasi yang canggih, telah mengubah budaya kerja yang stagnan di satu tempat. Sehingga, Kevin Kelly, dalam “New Rules for the New Economy” mengatakan, “The New Economy operates in a ‘space’ rather than a place, and over time more and more economic transactions will migrate to this new space.” Di mana, Ekonomi Baru beroperasi di ‘ruang’ (space) dan bukan di sebuah tempat (a place). Sehingga seiring waktu, akan semakin banyak transaksi ekonomi yang bermigrasi ke tempat baru ini. Karena bagi para penggiat industri kreatif, jarak bukanlah hambatan untuk mendapatkan pekerjaan berskala global.

Singkatnya, “World is changing, People is shifting and Digital Economy will be the KING.” Sebuah kondisi yang tak hanya memunculkan PELUANG, tetapi juga melahirkan berbagai TANTANGAN. Salah satunya, perusahaan-perusahaan dan individu saat ini tidak hanya dituntut untuk “LEARNING” akan tetapi justru harus UNLEARNING!

Apa yang dimaksud dengan unlearning, dan kenapa kita harus melakukannya?

Sejak buku Disiplin Kelima Peter Senge, dipublikasikan 25 tahun yang lalu, perusahaan telah berusaha menjadi “organisasi pembelajaran” yang terus mengubah diri mereka sendiri. Di era digital disruption ini, tujuan “organisasi pembelajaran” menjadi semakin lebih penting dari sebelumnya. Tetapi sayangnya, bahkan perusahaan terbaik pun masih harus susah payah berjuang untuk membuat kemajuan nyata di bidang ini.

Mengutip pemikiran Mark Bonchek, di Harvard Business Review edisi terbaru. Letak masalahnya adalah, kita semua telah fokus pada hal yang salah. Karena masalahnya bukan learning tetapi justru unlearning.

Dalam setiap aspek bisnis, kita beroperasi dengan model mental yang telah ketinggalan jaman atau usang. Mulai dari strategi hingga pemasaran, organisasi, sampai kepemimpinan, semuanya bertolak dari logika lama. Sehingga untuk merangkul logika baru penciptaan nilai di era digital disruption ini, kita harus melupakan yang lama. Inilah yang dimaksud dengan unlearning.

Unlearning bukan hanya tentang melupakan. Tetapi juga tentang kemampuan memilih model mental atau paradigma alternatif. Saat kita belajar atau learning, kita menambahkan keterampilan atau pengetahuan baru tentang hal-hal yang sudah kita ketahui. Tetapi pada saat unlearning, kita justru melangkah keluar dari model mental tersebut untuk memilih yang baru.

Sebagai contoh, ketika kita menyewa mobil untuk bepergian keliling Inggris. Padahal kita belum pernah mengemudikan mobil semacam ini sebelumnya, kita harus mempelajari penempatan berbagai kontrol. kita juga harus belajar menyetir di sisi kiri jalan. Semua itu relatif mudah. Bagian yang sulit adalah, kita tidak tahu bagaimana caranya menyetir di sebelah kanan jalan. Sehingga kita harus terus mengatakan pada diri sendiri untuk “tetap berada di sebelah kiri, tetap berada di sebelah kiri.” Karena, bener-bener tidak mudah melupakan kebiasaan mental yang lama.

Hal yang sama terjadi dalam bisnis. Banyak paradigma yang kita pelajari di sekolah dan ketika memulai karir dulu, kini menjadi sudah tidak lengkap atau tidak efektif.

Dalam strategi, seluruh generasi kita tumbuh dengan five forces-nya Michael Porter. Di mana, keunggulan kompetitif dicapai dengan menekan biaya, menaikkan harga, mempertahankan pelanggan, dan menghadang pesaing dan pendatang baru. Menurut Porter, “esensi strategi adalah Anda harus menetapkan batasan pada apa yang ingin Anda capai.”

Namun dalam ekonomi jaringan seperti sekarang ini, sifat strategi, penciptaan nilai, dan keunggulan kompetitif, sudah berubah dari inkremental yaitu secara bertahap menjadi eksponensial yang berarti melompat seketika. Perusahaan seperti Google, Uber, Airbnb, dan Facebook, justru fokus untuk menghapus batasan.

Sehingga, model strategi Porter mungkin tidak ketinggalan jaman, tapi jelas tidak lengkap. Seperti kata pepatah, “The map is not the territory,” Peta bukanlah wilayah yang sesungguhnya.

“World is changing, People is shifting and Digital Economy will be the KING.”

Di bidang pemasaran, bisa jadi pemikiran kita terserap oleh model mental komunikasi massa. Sehingga, pada saat dunia telah menjadi ‘many to many’, tetapi kita masih beroperasi dengan pola pikir ‘point to many’. Semuanya linier dan transaksional. Kita mengelompokkan orang ke dalam segmen-segmen demografik yang kaku, padahal sesungguhnya orang memiliki sifat multidimensional. Kita memperlakukan pelanggan sebagai konsumen, bahkan ketika mereka ingin menjadi cocreators. Kita membidik pembeli dan menjalankan kampanye yang mendorong pesan melalui saluran, meskipun keterlibatan nyata semakin banyak terjadi melalui pengalaman bersama. Kita memindahkan orang melalui jalur distribusi yang satu arah, meskipun perjalanan para pelanggan tidak linier.

Padahal, sekali lagi, “World is changing, People is shifting and Digital Economy will be the KING.” (Donas)

Artikel sebelumnyaMemperjelas Peran Lembaga Riset melalui Pembentukan Badan Riset Nasional
Artikel selanjutnyaSudirman Berencana Tiru DP Nol Rupiah Milik Anis-Sandi Untuk di Jateng
Radio Idola Semarang tidak terbawa arus mainstream yang berfalsafah Bad News is a Good News, tetapi sebaliknya, Radio Idola Semarang justru menghayati semangat Positive Journalism. Radio Idola Semarang, Memandu & Membantu.