Bangkitkan Kesadaran Masyarakat Untuk Mematuhi Protokol Kesehatan dengan Pendekatan Kultural

Bersatu Kita Teguh

Semarang, Idola 92.6 FM – Kalau dulu kita bisa bersatu melawan penjajah, kenapa kini kita tidak bisa bersama-sama berjuang melawan virus corona?

Bahkan jauh sebelumnya, ketika kita masih hidup terpisah-pisah berdasarkan suku, para pemuda berhasil mendeklarasikan Sumpah Pemuda dan menyatukan bangsa. Kenapa kini, ketika menghadapi “musuh bersama”, kita tidak kompak, tidak seiring sejalan, serta tidak senasib sepenanggungan?

Padahal, perang masih berkecamuk. Bahkan, kita masih sangat jauh dari kata menang. Yang kita pertaruhkan pun, juga tidak sederhana, karena selain kesehatan. Aada ancaman ekonomi dan melonjaknya jumlah rakyat miskin di dalamnya, yang ujung-ujungnya, menentukan masa depan seluruh bangsa.

Maka, ada di mana rasa persatuan yang selama ini sering kita gembar-gemborkan? Kalau sekadar mematuhi protokol kesehatan agar kita bisa memenangkan perang saja tak sanggup kita pikul bersama?

Bercerai Kita Runtuh

Serta di mana itu semboyan “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” yang acap kita gaungkan? Kalau hanya berdisiplin dalam memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak, demi keselamatan dan kesejahteraan seluruh bangsa, begitu berat kita tunaikan?

Apa sesungguhnya yang membuat, belum semua orang sadar dan patuh pada protokol kesehatan? Apa yang membuat begitu banyak orang yang masih abai, seakan ancaman Covid-19 hanyalah sekadar candaan? Apakah karena isi pesannya yang terlalu sulit dipahami? Atau, model komunikasi dan pendekatannya yang terlalu kaku, struktural dan formalistik? Lalu, bagaimana cara kita mencegah munculnya cluster-cluster baru, di lingkungan Industri dan sekolah, yang belakangan ini terjadi?

Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, radio Idola Semarang berdiskusi dengan beberapa narasumber, yakni: Tukiman Taruna (Pemerhati pendidikan Unika Soegijapranata Semarang); Adhi S Lukman (Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI)); Andy Bangkit, Ph.D (mantan Associate Professor Nagoya University); dan Prof Budi Haryanto (Epidemiolog lingkungan Universitas Indonesia/ Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia). (Andi Odang/her)

Berikut podcast diskusinya:

Artikel sebelumnyaMengenal Sisca Soewitomo, Ratu Boga Indonesia
Artikel selanjutnyaPolri Ingatkan Soal Protokol Kesehatan Saat Pilkada Berlangsung