Mendesak Keseriusan Semua Pihak dalam Memerangi Pandemi

Perang Melawan COVID-19
(Ilustrasi: Twitter / @asumsico)

Semarang, Idola 92.6 FM – Ada rasa berat hati untuk kembali mengucapkan hal ini berkali-kali. Apa lagi untuk mendiskusikan sebuah persoalan yang itu lagi. Itu lagi. Tapi apa boleh buat, meminjam bahasa hukum: Ada kegentingan yang memaksa–yang mendesak kita segenap warga bangsa untuk secara bersama-sama dan hand in hand, berjuang melenyapkan virus Corona di Indonesia, setelah gugurnya para tenaga kesehatan akibat terpapar Covid-19, yang kini jumlahnya sudah melampaui angka 100 orang.

Enam bulan telah berlalu, sejak kasus pertama diumumkan 2 Maret lalu, peningkatan angka positif Covid-19 di Indonesia terus mengalami peningkatan. Tak ada tanda-tanda kapan berakhirnya. Bahkan perkiraan masa puncaknya pun, diperkirakan masih berada jauh di depan.

Menurut kalangan juru wabah, peningkatan itu disebabkan oleh dua problem:

  • Pertama, yang paling klasik, problem dikotomis tarik ulur peningkatan ekonomi dan menekan kurva kesehatan. Selama ini kita terjebak dalam perangkap yang disebut dengan istilah “Tirani Atau” (Tyrany of the OR).
  • Kedua, kurangnya jumlah dan cakupan tes. Jumlah tes kita masih terlalu rendah dari standard WHO. Jumlah tes Covid-19 di Indonesia baru mencapai 35,6 persen dari standar yang ditetapkan WHO 1 tes per 1.000 populasi per-minggu.

Padahal, tes itu ibarat jaring dan Covid-19 adalah ikannya. Kalau dengan jaring kecil saja sudah banyak ikan yang tertangkap maka berarti di kolam pasti banyak ikannya—yang berarti, kasus Covid-19 di Indonesia secara potensial, masih sangat tinggi, hanya saja belum terungkap.

Tes Covid-19

Lalu, bagaimana keluar dari situasi ini? Bagaimana mendesak keseriusan semua pihak dalam memerangi Pandemi? Dimana letak masalahnya, sehingga masih sangat sedikit jumlah tes yang kita lakukan? Apa yang mesti kita lakukan? Jika ini saatnya—menarik tuas rem—kebijakan apa yang mesti segera diambil pemerintah dalam situasi krisis kesehatan saat ini?

Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, radio Idola Semarang berdiskusi dengan beberapa narasumber, yakni: Prof Zubairi Djoerban (Ketua Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI); Dr. Syahrizal Syarif, MPH, PhD (Ahli Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia); dr Andani Eka Putra (Kepala Laboratorium Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Universitas Andalas Padang); dan Prof Amin Soebandrio (Ketua Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Institute). (andi odang/her)

Berikut podcast diskusinya:

Artikel sebelumnyaShofyan Adi Cahyono, Petani Milenial asal Getasan
Artikel selanjutnyaIPKN Inginkan Metodologi Pemeriksaan Keuangan Negara Gunakan Satu Standar Yang Sama