Kalangan Medis Setuju Gerakan Jateng di Rumah Saja

Sejumlah tenaga kesehatan
Sejumlah tenaga kesehatan melakukan pemeriksaan tes Antigen kepada para pengunjung di Rest Area tol Semarang-Solo.

Semarang, Idola 92,6 FM – Sejumlah organisasi tenaga medis memberikan dukungan kepada Pemprov Jawa Tengah, dalam upaya memutus rantai penularan COVID-19 selama dua hari melalui Jateng di rumah saja. Organisasi profesi perawat dan dokter siap memberikan dukungan, karena selama pandemi melanda sudah cukup banyak tenaga medis yang menjadi korbannya.

Ketua DPW Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jateng Edi Wuryanto mengatakan langkah yang diambil pemprov melalui Jateng di rumah saja sangat penting, dalam upaya mengubah perilaku masyarakat untuk sukarela dan mau disiplin terhadap protokol kesehatan. Terutama, di sektor hulunya.

Edi menjelaskan, masih banyak masyarakat yang abai terhadap protokol kesehatan dan melupakan gerakan 3M. Yakni memakai masker saat di luar rumah, menjaga jarak dan mencuci tangan dengan sabun.

Menurutnya, gerakan Jateng di rumah saja merupakan terobosan dengan melibatkan masyarakat untuk mau selama dua hari di rumah saja dan menghindari kerumunan.

“Ini kan penanganan pada level hulu, kita selama ini fokus pada hilir terus. Padahal, hilir enggak akan selesai kalau hulunya enggak diperbaiki. Dan hulu adalah di perilaku masyarakat. Masih banyak yang keluar rumah, dengan agenda kegiatan tidak perlu atau tidak prioritas,” kata Edy, Kamis (4/2).

Ketua DPW Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jateng, Edi Wuryanto:

Sementara itu Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kota Semarang dr Elang Sumambar juga memberikan dukungan, karena selama masa pandemi ini sudah cukup banyak tenaga medis yang gugur untuk menyelamatkan nyawa pasien terkonfirmasi COVID-19. Dengan mengurangi aktivitas di luar rumah, sangat efektif untuk memutus rantai penyebaran virus Korona.

Menurut dr Elang, keputusan meminta masyarakat berdiam di rumah saat akhir pekan sudah sangat tepat. Sebab, di hari Sabtu-Minggu banyak digunakan masyarakat untuk keluar rumah dan bepergian sehingga lepas kontrol.

“”Salah satu cara untuk memutus rantai itu adalah dengan tidak banyak beraktivitas, artinya mengurangi aktivitas. Dua hari di masa-masa long week end itu kadang-kadang orang itu kayak terkompensasi, sehingga kadang-kadang kontrolnya lepas. Karena memang kultur itu sudah terbentuk, padahal itu kan rawan,” ujar dr Elang.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kota Semarang, dr Elang Sumambar:

Lebih lanjut dr Elang meminta masyarakat Jateng, untuk legowo dan melaksanakan gerakan di rumah saja selama dua hari dengan sepenuh hati. Tidak akan sulit selama dua hari di rumah saja, asalkan segala kebutuhan dan keperluan sudah disiapkan sebelumnya. (Bud)

Artikel sebelumnyaPengusaha Tak Sepakat Jika Kegiatan Usaha Ditutup Dua Hari
Artikel selanjutnyaPolda Siap Amankan Gerakan Jateng di Rumah Saja

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini