Kebijakan “Jateng di Rumah Saja”: Antara Narasi dan Substansi

Jateng Di Rumah Saja

Semarang, Idola 92.6 FM – Dalam upaya mengendalikan Pandemi, berbagai upaya dilakukan Pemerintah Daerah melalui pendekatan kearifan lokal dan ke-khas-an masing-masing. Salah satunya, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Pasca PPKM yang dinilai tak efektif oleh Presiden Joko Widodo, Provinsi Jawa Tengah kini tengah menyiapkan kebijakan bertajuk “Jateng di Rumah Saja”. Dalam pelaksanaannya, pada Sabtu-Minggu, 6-7 Februari 2021 akhir pekan ini, akan diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Seluruh masyarakat di Jawa Tengah diminta untuk tidak keluar rumah dan tidak melakukan aktivitas di luar lingkungan rumah.

Menurut Gubernur Ganjar Pranowo, dengan dua hari di rumah saja, diharapkan dapat melatih disiplin warga untuk mematuhi protokol kesehatan Covid-19, menggugah kesadaran bersama untuk melawan Pandemi, serta sebagai bentuk empati pada tenaga kesehatan dan dokter yang masih terus berjuang dan para nakes yang telah gugur.

Dalam Surat Edaran tanggal 2 Februari 2021 tentang Peningkatan Kedisiplinan dan Pengetatan Protokol Kesehatan Pada PPKM Tahap II di Jawa Tengah: pasar, toko, dan tempat wisata akan ditutup. Selama dua hari, tempat dan acara yang berpotensi menghadirkan kerumunan–seperti Car Free Day, jalan protokol, aktivitas pendidikan, dan event lain akan ditutup.

Bagi yang menggelar hajatan dan pernikahan, juga akan dibatasi dengan tanpa mengundang tamu. Meski demikian, dalam pelaksanaanya, terdapat pengecualian pada sektor esensial kesehatan, kebencanaan, keamanan, logistik dan kebutuhan pokok masyarakat.

Reaksi pun bermunculan. Sejumlah kalangan melihat, kebijakan ini parsial dan tidak akan efektif menanggulangi Pandemi, karena hanya dua hari saja. Di sisi lain, kalangan pengusaha pun juga keberatan sebab akan berimplikasi pada usaha mereka.

Kita tentu saja patut mengapresiasi niat baik Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Secara narasi, memang indah dan kreatif. Namun, dari sisi substansi kita patut bertanya-tanya, sudahkah program tersebut berbasis pada sains dan sesuai dengan pendekatan epidemiologis?

Lantas, menimbang kebijakan “Jateng di Rumah Saja”; antara narasi dan substansi—bagaimana agar implementasinya benar-benar berdampak signifikan bagi penanganan Covid-19?

Untuk memperoleh gambaran atas persoalan ini, radio Idola Semarang berdiskusi dengan beberapa narasumber, yakni: Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah); dr Antono Suryo Putro, MPH, PhD (Dosen/ peneliti/ pengamat kesehatan masyarakat Undip Semarang); dan Hendrar Prihadi (Wali Kota Semarang). (her/andi odang)

Dengarkan podcast diskusinya:

Artikel sebelumnyaMengenal virus Nipah bersama Peneliti Mikrobiologi LIPI
Artikel selanjutnyaPemkot Magelang Ajak Warga Dukung Gerakan Jateng di Rumah Saja

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini