Semarang, Idola 92.6 FM – Kasus Covid-19 di Indonesia saat ini bisa diibaratkan, surutnya air laut setelah gempa besar. Situasi ini seolah aman tetapi menyimpan pesan agar bersiaga menghadapi potensi tsunami Covid-19.

Begitu harian Kompas (18/05) menggambarkan situasi yang terjadi saat ini. Terutama, melihat ancaman varian baru virus corona dari India.

Diketahui, varian baru virus corona yang pertama kali dideteksi di India terbukti lebih menular. Di mana karakter ini, varian B.1.617, sangat dominan di seluruh India dan telah menyebar ke 40 negara termasuk di Indonesia.

Hingga saat ini, sudah 10 kasus yang membawa varian India ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Varian ini juga diduga sudah mengalami transmisi lokal. Ini karena sebagian kasus ditularkan oleh orang yang tidak pernah ke luar negeri atau berinteraksi dengan pelaku perjalanan dari luar negeri.

Tsunami Covid-19 India
images/quartz

Atas situasi ini, sejumlah negara seperti Singapura dan Malaysia telah menerapkan prokes ketat bahkan memberlakukan lockdown di beberapa wilayahnya. Mereka misalnya, sebelumnya membatasi kerumunan hanya untuk 8 orang, lalu diturunkan menjadi hanya 5 orang, namun kini mereka membatasi hanya 2 orang saja. Sehingga, seluruh rumah makan tidak boleh dikunjungi, kecuali takeaway dan pesanan delivery.

Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Ede Surya Darmawan memperkirakan, Indonesia tidak akan bisa menghindari lonjakan kasus Covid-19, terutama karena tingginya mobilitas penduduk selama sebulan terakhir dan longgarnya penerapan protokol kesehatan. Menyusul, kegagalan pemerintah dalam membendung arus mudik dan keramaian selama liburan hari raya.

Lantas, mencegah kekawatiran munculnya tsunami Covid-19 ala India? Apa upaya antisipasi kita? Benarkah, ketika Singapore-Malaysia telah sibuk berjaga-jaga padahal jumlah kasusnya relatif sangat rendah dibanding kita, sementara Indonesia malah santai-santai saja? Benarkah kita terlalu menganggap enteng Covid-19? Lalu, apa langkah yang semestinya dilakukan? Di sisi lain, belum cukupkah PPKM Mikro untuk menanggulangi Covid-19 di daerah?

Untuk memperoleh gambaran atas persoalan ini, radio Idola Semarang berdiskusi dengan beberapa narasumber yakni: Prof Budi Haryanto (Epidemiolog Lingkungan Universitas Indonesia/ Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia), Prof Zubairi Djoerban (Ketua Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI)); dan Hendrar Prihadi (Wali Kota Semarang). (her/yes/ao)

Dengarkan podcast diskusinya:

Artikel sebelumnyaPolrestabes Semarang Kembali Amankan Pelaku Pemalsu Surat Keterangan Antigen
Artikel selanjutnyaMengenal Ahmad Baihaqi, Pelestari Lingkungan dari Jakarta

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini